Belajar dari Vale

Malam ini gelaran motogp seri terakhir tahun ini mendebarkan. Biasanya saya langsung tidur ketika belum habis race berlangsung. Tapi malam ini mata saya terjaga memandangi layar televisi yang menyiarkan race tersebut. Hal ini karena saya memang ingin melihat bagaimana drama yang tersaji dalam sesi terakhir motogp tahun ini.

Memang benar, tak sia-sia betul saya menantinya. Dalam balapan kali ini, ada satu yang menarik perhatian hampir seluruh pasang mata para fans nya, dialah Valentino Rossi. Pembalap yang tinggal sedikit lagi mencicipi gelar juara ke sekian kalinya, harus menelan pil pahit kala dia dijatuhi hukuman start di posisi buncit pada gelaran terakhir motogp di valencia tahun ini. Hal ini disebabkan karena Vale yang dianggap sengaja ‘menendang’ lawannya -sebut saja Marq- saat membalap di tikungan pada race sirkuit sepang Oktober lalu.

Nasib memang, jutaan fans nya -termasuk saya- mulai pesimis, kecewa dengan keputusan race direction yang menjatuhi hukuman tersebut. Beragam spekulasi mulai muncul di pikiran saya, mengapa ini bisa terjadi? Mengapa hukuman ini bisa dijatuhkan? Apakah Vale akan tetap fight di sirkuit terakhir? Atau malah ngambek dengan hukuman yang jatuh padanya sehingga tidak mau lagi ikut pertarungan terakhir?

Ah, salah memang membuat spekulasi dan pertanyaan tak berarti, sesungguhnya hal itu hanya membuang waktu dan menguras energi. Tunggu saja sampai tiba rilis resminya langsung dari pembalapnya. Dan ternyata benar, pada akhirnya Vale tetap melanjutkan balapan apapun yang terjadi pada dirinya. Mungkin harapan untuk menjadi juara sudah sangat sempit mengingat posisi pesaingnya -Lorenzo- berada di posisi start pertama. Mungkin saja ini hanya sebagai hiburan ‘krupuk’ yang dilakoni untuk menggenapkan penderitaan. Mungkin, mungkin dan banyak mungkin.

Tapi apapun spekulasinya, saya tetap menaruh respek yang besar terhadapnya. Sebagai seorang berjiwa lapang, pantang untuknya mundur meski dihujani kekecewaan yang merundungnya saat ini. Dia tetap melanjutkan race terakhir dengan semangat yang saya tidak pernah lihat sebelumnya.

Bagaimana tidak, start di posisi buncit, sudah pasti membuat mental seorang pembalap nge-down untuk bisa mencapai paling tidak sepuluh besar. Atau syukur-syukur bisa 5 besar apalagi 3 besar. Tetapi inilah dia, dengan kelincahannya menunggangi motornya, dia mampu menyelinap diantara sekian pembalap menerobos hingga akhirnya berada di posisi ke-empat. Kita bisa bayangkan, dari posisi buncit, BUNCIT, hingga akhirnya Vale mampu menerobos pembalap lainnya sehingga menempatkannya di posisi empat. Mungkin, kalau bukan dia, tidak ada lagi pembalap yang mampu melakukannya saat ini.

Saya belajar banyak dari Vale. Start di posisi terbelakang, finish di posisi ke empat. Apalagi yang bisa membuatnya seperti itu kalau bukan daya juang yang begitu tinggi darinya. Selamat atas ‘kemenangan’ mu. Selamat atas kemenangan rekan satu tim mu.

Begitulah, apalagi yang bisa melakukannya kalau bukan semangat juang yang begitu tinggi. Meski tidak masuk 3 besar, berada di posisi ke-empat dari posisi start terbelakang itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa. Dan lagi, poin yang didapatkan Vale dengan poin sang juara dunia itu hanya 5 poin selisihnya. Sungguh suatu ‘kekalahan’ yang sangat terhormat untuk Vale. Standing applause…

Sekian. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s