Demonstrasi atau Advokasi?

Bismillah
Dengan menyebut nama Allah, malam ini saya menulis lagi..

Belakangan ini, saya resah dengan pemberitaan jokowi. Bukan karena jokowi yang selalu bikin ulah, karena memang begitulah beliau. Tapi ini mengenai pergerakan mahasiswa. Iya, mahasiswa yang orang bilang agent of change.


Tak salah memang, mahasiswa mendapati julukan AoC dari kalangan masyarakat. Sebab, idealisme yang masih murni tanpa campur tangan urusan kacangan. Entah itu parpol, kepentingan si A, si B, dan si tetek bengek lainnya. Masih murni, belum tercampur kotoran manapun. Dari kemurnian inilah mereka akhirnya ditantang untuk melakukan suatu perubahan yang diharap-harapkan oleh sebagian besar masyarakat ke arah yang lebih baik.

Menyoal mahasiswa, hari ini, tepat di hari kebangkitan nasional, saya melihat berbagai media elektronik ramai memberitakan tentang aksi besar-besaran dari sekelompok mahasiswa guna melengserkan atau minimal memberikan aware terhadap kinerja pemerintah saat ini, meski sangat banyak juga media yang terkesan menutupi atau bahkan mendeskreditkan aksi mahasiswa.

Memang betul, kondisi negeri yang semakin semrawut ini memancing kegelisahan para mahasiswa untuk tergerak hatinya melangkahkan kaki menuju ke depan istana guna menyampaikan keluh kesah tentang harga bbm naik, beras mahal, sembako melonjak, dan permasalahan lainnya. Tapi, perlu dicermati tentang ini, cara penyampaian aspirasi.

Ada dua hal yang saya amati beberapa hari ini. Tentu, saya akan membahas tentang penyampaian aspirasi mahasiswa. Pertama, demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang diliput oleh segelintir media, dibungkam dan diplintir beritanya sana sini. Kedua, ini yang unik, mengikuti undangan jamuan makan malam seorang presiden.

Menurut kacamata saya, menyikapi kedua perbedaan ini, adalah hal yang wajar dalam ranah demokrasi. Sungguh, sangat wajar. Bukankah jalan menuju Roma itu sangat banyak? Bukan hanya melalui satu jalur saja, kan? Lantas, apa masalahnya? Dua-duanya merupakan cara untuk menyampaikan pendapat, kan? Lalu, mengapa harus membenci cara satu atau cara kedua?

Baiklah, baik. Lagi-lagi saya akan menilai menurut kacamata saya. Advokasi, adalah salah satu jalan mulia menurut saya. Mengapa? Karena di pilihan inilah para intelek berdiplomasi, berdiskusi mencari solusi, melobi, mengklarifikasi, dan menuntut perubahan terhadap suatu tujuan yang diinginkan oleh masyarakat untuk disampaikan kepada si pembuat kebijakan, tentunya untuk kemaslahatan bersama, bukan hanya segelintir kelompok. Lantas, ada apa dibalik jamuan makan malam dari seorang presiden? Logis tidak sih, orang yang menyampaikan pendapat dengan perut terisi akan lebih tenang dan tidak menggebu-gebu, dan tidak marah-marah? Bukankah ketenangan ini yang kita harapkan? Sekali lagi, mari lihat esensinya, bukan jamuan makan malamnya. Tentu, seorang tuan rumah pasti akan menghormati tamunya dengan menyajikan hidangan istimewa untuk si raja -tamu-. Misi apa yang dibawa mahasiswa kepada sang presiden. Kita harus pahami itu, dengan harapan bahwa si presiden memberikan feedback yang memuaskan untuk si penyampai aspirasi.

Lalu, apakah demonstrasi itu buruk? Jawabannya adalah tidak. Tidak sepenuhnya demonstrasi itu buruk. Bila kita lihat lebih jauh lagi, demo merupakan suatu alat untuk menyampaikan pendapat di ruang terbuka. Tujuannya apa? Yaitu memberikan awareness kepada seantero masyarakat luas bahwa sedang ada masalah yang harus diselesaikan. Bila advokasi mendesak dari dalam dengan cara-cara yang elegan, maka demo adalah cara mendesak si pembuat kebijakan dari luar dengan cara yang lebih berani, bukan anarki, sekali lagi bukan anarki. Mengapa saya katakan demikian? Sebab, dengan mengumpulkan massa yang banyak inilah pemerintah menjadi gentar, luluh, ternyata banyak manusia yang mengharapkan hal baik darinya, banyak yang tidak setuju dengan kebijakannya, perlu ada sebuah perubahan yang disampaikan melalui sebuah orasi penggugah semangat.

Sekarang ini, yang terjadi di lapangan bukan lagi semangat perubahan yang dikobarkan melalui orasi dari mulut seorang orator ulung. Justru demonstrasi malah dijadikan alat destruktif, menghancurkan fasilitas umum, menginjak-injak rumput-rumput taman yang sudah tertata rapi, mencoret-coret dinding istana dengan umpatan tak beradab. Lantas, hanya sampai level inikah adab seorang mahasiswa? Tidak lebih dari seorang preman jalanan pemeras uang? Meminjam kata-kata presiden yang lalu, saya sangat prihatin dengan keadaan ini. Bukan lagi esensi yang dikejar, melainkan sensasi, sensasi menjadi preman sehari, merusak semua barang yang sudah dibeli dengan uang negara. Entah apa yang ada di benak para penghancur ini, saya tidak paham.

Sejatinya, keduanya adalah pilihan yang baik. Tergantung individu mau memilih cara yang menurutnya cocok. Toh, bukankah kalau keduanya dilakukan, akan menjadikan kombinasi mengagumkan? Jangan saling menyalahkan, jangan saling hujat, pertanggungjawaban ada di akhirat, sekecil apapun hujatan itu. Pun, menulis juga merupakan salah satu dari ribuan cara menyampaikan pendapat. Bukan hanya maju ke lapangan atau berdiplomasi kepada si empunya kebijakan, semua terserah individu. Intinya adalah, mari buka wawasan, mari tetap suarakan kebaikan melalui jalan apapun itu, sebisa kita, semampu kita. Semoga kita tetap teguh di jalan yang benar. Demikian.

————————-
Tulisan ini dibuat berkenaan dengan hari kebangkitan nasional
20 Mei 2015
Hasan Nuruddin, sudah bekerja 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s