Memperjuangkan Cinta

Untuk yang sedang diperjuangkan.

Membaca sebuah tulisan tentang hubungan yang selama ini kita jalani. Sejujurnya, sejujurnya. Aku sungguh sudah menduga bahwa engkau pasti akan menuliskan ini, menceritakan kegalauan ini, hingga menumpahkan ini melalui baris tulisan.

Badanku gemetaran, batinku ketir, ikhlasku diuji, hati ini seperti masih belum rela jika pada akhirnya nanti kita memutuskan untuk menapaki jalan masing-masing. Mengingat hari-hari makin berwarna semenjak saat itu. Adalah sangat wajar kalau aku merasakan kegetiran ini.

Memahami apa yang telah terjadi, kita seperti pelari yang tak tahu arah. Padahal jelas garis finish itu ada di depan mata. Kita hanya tinggal terus berlari sesuai dengan jalur yang telah ditentukan. Tak perlulah berbalik arah, membelokan diri kesana kemari, sedang yang lain sudah jauh meninggalkan kita di depan. Pun, bukankah Allah adalah garis finish itu? Bukankah kita hanya tinggal berlari menuju-Nya? Bukankah Dia sudah menentukan jalur untuk kita? Lantas, apa dasar kita memilih untuk menjauhi-Nya? Sudah sehebat apa kita sampai berani melawan-Nya? Sedang kematian setiap detik mengintai? Bukankah akhir yang baik adalah tujuan kita?

Aku sama sekali tak ingin menyalahkan keadaan, tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Aku hanya ingin menghakimi aku. Memang, masih sangat jauh diri ini dari taat. Masih sangat rentan hati ini dari godaan. Membentengi hati menjadi prioritas utama yang aku harus lakukan saat ini.

Alih-alih memunculkan peradaban baru yang beradab, penggagas peradaban masih sangat jauh dari nilai ‘baik’. Bukankah buah yang baik muncul dari bibit yang baik pula? Aduh, masih terlalu rendah kita dari hal itu.

Terkadang, memang kita sering terjebak dalam penilaian kita sendiri. Betul, prosesi pasca menghalalkan yang haram memang menjadikan kita untuk mendewasa. Tapi, bukankah ada urusan yang belum kita selesaikan? Namun, tidak baik juga kalau kita terlalu berlama-lama dalam urusan kita. Takut kalau urusan tersebut dijadikan sebagai dalih menunda hal yang baik. Maka kita harus proporsional, selektif, mampu memprediksi kapan urusan kita harus selesai, dan mampu memilih waktu yang tepat kapan kita harus menyegerakan kebaikan tersebut.

Seperti rejeki, dalam hal ini rejeki aku artikan lebih sempit lagi, uang. Uang harus dicari, dengan apa kita memenuhi hidup kalau bukan dengan uang? Seperti itu analoginya. Jodoh, terutama untuk lelaki, mungkin tak akan pernah datang kalau ia tidak mencari. Bahkan, ketika dia sudah mulai menemukan, tidak serta merta bisa mengambilnya. Butuh perjuangan, sekali lagi perjuangan. Sebab, memetiknya tidak sembarangan, perlu mental dan keberanian yang kuat.

Lagi-lagi, mental, atau bahkan finansial memang bukan syarat wajib menjalani sunnahnya. Sebab Allah lah yang menjamin kehidupan kita setelah terikat, Dia pula-lah yang menjadikan kita dewasa. Ini yang menjadi prinsip mengapa aku yakin dan ‘berusaha mati-matian’ memperjuangkan ‘uang’. Tapi sekali lagi, memutuskan untuk memetik buah, wajib untuk meminta izin kepada pohon. Tak bisa seenaknya mengambilnya, perlu ilmu dan bekal lain. Sebab kalau saja berada di tangan yang salah, busuklah buah tersebut, atau entah bagaimana nasibnya. Sunnah ini memang bukan hanya berurusan dengan dua kepala, bahkan lebih besar. Aku, kita harus berurusan dengan akar, batang, dahan, ranting, dan bagian terpenting lainnya. Intinya induk dari si buah.

Memperjuangkan, berjuang, memiliki makna luas. Bukan hanya sekedar menunggu dan memperbaiki yang belum baik, tetapi juga menyamakan persepsi antar satu pikiran dengan yang lain. Mungkin memang benar, ini sulit, tapi semoga Allah menjadikannya mudah. Allahumma mudahkan.

Sekali lagi, ini tentang ‘uang’ yang diperjuangkan. Semoga selalu ada kemudahan atas perjuangan ini, semoga. Dan Allah, semoga Dia ridhoi proses berjuang ini.

— Sincerelly, seorang pendosa yang ingin mulia melalui sunnahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s