Buah Perdebatan ‘Tahlilan’

Siang tadi saya membaca artikel dari sebuah media elektronik yang membahas tentang tradisi selamatan kematian atau dimata masyarakat luas biasa disebut tahlilan, ini link beritanya di sini. Karena menarik dan penting, maka saya share berita tersebut ke dinding profil facebook saya. Sungguh, saya tidak ada niatan untuk mendeskreditkan golongan tertentu, atau ikut-ikutan latah, atau bahkan mengkafirkan orang muslim. Sungguh. Tapi, saya tidak menyangka bahwa buah dari apa yang saya lakukan itu berbuntut panjang. Berbagai tanggapan mulai dari meluruskan, mendukung, tidak menerima, atau bahkan disangka memaksakan kehendak muncul di kolom komentar dari berita yang saya posting tadi. Saya akan share tentang hukum tahlilan menurut apa yang saya pelajari, yang saya ketahui dan dari literatur yang saya pernah baca. Malam ini, tepat malam ini sekali, saya mendadak rajin membaca buku tentang tahlilan hanya untuk sekedar memahami lebih jauh apa itu tahlilan dan apa apa yang saya belum ketahu di dalamnya. Memang, masih belum pantas saya mendebat soal agama, menyampaikan saja masih gagap, apalagi sampai berani-beraninya mendebat, yakan? hehe

Baik, saya memang bekerja di rumah sakit muhammadiyah di salah satu kota di Lampung, tapi saya berusaha memposisikan diri saya bukan sebagai orang muhammadiyah, berusaha objektif dalam memaknai ilmu dan permasalahan adalah tindakan sangat bijak ketimbang memberatkan doktrin ke satu golongan, itu yang akan saya coba lakukan. Di sini, saya memakai dua refrensi buku untuk menguatkan argumen dan beberapa literatur dari website yang saya rasa kredibel untuk dijadikan rujukan, Mudah-mudahan. Buku yang pertama adalah Mantan Kiai NU menggugat tahlilan, istighosahan, dan ziarah para wali. Buku ini ditulis oleh H. Mahrus Ali, beliau adalah tokoh NU cabang Waru, Sidoarjo. Sungguh, sekali lagi sungguh, saya memakai refrensi ini bukan karena saya ingin mendeskreditkan golongan tertentu, tetapi karena saya hanya punya buku itu, dan ya hanya buku tersebutlah yang mengkaji tahlilan lebih mendalam. Lalu buku kedua adalah Ensiklopedia Bid’ah yang ditulis oleh Hammud bin Abdullah al-Mathar.

Apa itu tahlilan?

Menurut pemahaman saya, tahlilan adalah berbagai macam kumpulan sholawat nabi muhammad, doa-doa, bacaan surat Al-Qur’an, dan mengagungkan Allah sebagai bentuk doa yang dikirimkan kepada si mayit di hari pertama, ketiga, ketujuh, kesepuluh, keseratus, atau keseribu tepat setelah meninggalnya si mayit. untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di sini. Saya menghadirkan link tersebut sama sekali, lagi-lagi bukan untuk mendeskreditkan NU atau Muhammadiyah, atau malah meninggikan keduanya, tidak. Hanya untuk perbandingan saja tentang polemik yang hadir di masyarakat. Dan menurut saya, yang tidak membolehkan tahlilan bukan hanya Muhammadiyah, namun golongan lain pun tidak, seperti yang saya ketahui yaitu salafi atau tarbiyah (maaf kalau ada salah sebut, mohon diluruskan).

Bagaimana asal usul tahlilan?

Menurut penyelidikan para ahli, upacara tersebut diadopsi oleh para dai terdahulu dari upacara kepercayaan animisme, Budha dan Hindu. Menurut kepercayaan animisme, Hinduisme atau Budhaisme, bila seseorang meninggal dunia maka ruhnya akan datang kembali ke rumah pada malam hari untuk mengunjungi keluarganya. Jika di dalam rumah tadi tidak ada ramai-ramai orang berkumpul dan mengadakan upacara sesaji, seperti membakar kemenyan, dan sesaji terhadap yang ghaib atau ruh-ruh ghaib, maka ruh orang mati tadi akan marah dan masuk (sumerup) ke dalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga si mati. Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan-kawan atau masyarakat tidak tidur, membaca mantera-mantera atau sekedar kumpul-kumpul. Hal tersebut dilakukan pada malam pertama kematian, selanjutnya malam ketiga, ketujuh, keseratus, satu tahun, dua tahun, dan malam keseribu.

Setelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk Islam, mereka tetap melakukan kebiasaan tersebut. Sebagai langkah awal, para da’i terdahulu tidak memberantasnya, tetapi mengalihkan dari upacara yang bersifat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan Islam. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk pauk untuk sedekah, mantera diganti dengan zikir, doa dan bacaan Qur’an. Upacara semacam ini kemudian dinamakan tahlilan yang sekarang membudaya pada sebagian besar masyarakat (Mantan Kiai NU menggugat tahlilan, istighosahan, dan ziarah para wali halaman 22).

Masih di dalam buku yang sama, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 4031, Rasul bersabda, “Barangsiapa menyerupai mereka termasuk golongan mereka.” Dari sini jelaslah, bahwa hal ini merupakan suatu kebiasaan orang non-muslim. Ini yang saya takutkan akan merusak akidah kita sebagai umat Islam.

Para wali membolehkan tahlilan?

Dikisahkan bahwa Sunan Ampel termasuk orang yang anti tahlilan, beliau juga memberi peringatan kepada Sunan Kalijogo yang mengadakan tahlilan. “Jangan diteruskan perbuatan semacam ini termasuk bid’ah.” Sunan Kalijogo menjawab, “Biarlah generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di dalam hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu.” Kisah ini disebutkan dalam sebuah buku tentang Islam di Indonesia yang tersimpan di sebuah museum di negeri Belanda. Dalam pandangan Sunan Kalijogo masyarakat pada saat itu belum memahami tentang Islam dengan baik, masih kuat dipengaruhi oleh peradaban Hindu. Karena itu kemudian diadakan kumpulan sebagaimana kebiasaan masyarakat sebelumnya yaitu kumpulan peringatan hari kematian, hanya saja isinya berupa dzikir tahlil dan doa-doa dari ajaran Islam. Walaupun demikian Sunan Ampel tetap tidak setuju, karena perbuatan semacam ini termasuk bid’ah. (Mantan Kiai NU menggugat tahlilan, istighosahan, dan ziarah para wali halaman 14).

Ada syirik di dalam bacaan tahlilan?

Dalam tahlilan terdengar suara seorang pemimpin tahlilan membaca shalawat nariyah yang artinya adalah sebagai berikut :
“Ya Allah curahkanlah rahmat yang sempurna dan kesejaahteraan yang sempurna kepada sayyidina Muhammad yang dengannya segala ikatan lepas dan segala kesedihan lenyap karenanya, dan dengan Nabi Muhammad segala cita-cita tercapai, segala kebutuhan akan diraih dan awan menurunkan hujan dengannya (wajah nabi yang mulia) sejumlah tiap kedip atau senafas dan sebanyak seluruh apa yang Engkau ketahui.”

Shalawat tersebut mengandung berbagai kalimat syirik karena menyandarkan harapan bahwa terlepasnya segala kesulitan dan kesedihan adalah berkat Nabi Muhammad, begitu pula menggantungkan cita-cita kepada Rasulullah, bahkan beranggapan bahwa hujan pun turun berkat beliau pula (Mantan Kiai NU menggugat tahlilan, istighosahan, dan ziarah para wali halaman 55-56).

Menyelenggarakan pesta untuk mayit, bolehkah?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, Sama sekali tidak ada riwayat dari Nabi Muhammad, tidak ada para sahabat dan tidak pula dari salafus shalih tentang penyelenggaraan pesta untuk mayit, baik ketika meninggalnya, seminggu setelahnya, empat puluh hari atau setahun setelahnya, bahkan ini merupakan bid’ah dan kebiasaan buruk yang dahulunya dilakukan oleh orang-orang mesir purbakala dan kaum kafir lainnya (Majmu’ Fatawa Samahah asy-Syaikh Ibnu Baz, hal. 777 dalam Ensiklopedia bid’ah hal. 215).

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengatakan, “Tidak termasuk syari’at menyelenggarakan selamatan, bahkan ini yang dilarang Allah karena mengandung keluhan dan ratapan serta bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at. Adapun yang disyari’atkan dalam rangka turut berbela sungkawa adalah apabila berjumpa dengan orang yang tertimpa musibah karena kematian adalah mendoakannya dan mendoakan untuk mayit, misal dengan mengucap,

“Semoga Allah membaikkan kesabaranmu dan meneguhkan pada musibahmu, semoga Allah mengampuni mayitmu.”

Tidak mengapa pula, bahkan dianjurkan untuk membuatkan makanan kepada keluarga si mayit jika mereka disibukkan dengan kesedihan, dll. sehingga tidak bisa membuat dan menyiapkan makanan karena musibah tersebut. Dalam hal ini, selayaknya para tetangga membuatkan makanan dan menghadiahkan kepada mereka. Adapun penyelenggaraan selamatan dan upacara lainnya dengan mengundang orang-orang dan pembaca Al-Qur’an serta memasak makanan (dari keluarga mayit), semua ini tidak ada dasarnya dalam Islam (Al-Muntaqa min Fatawa Fadhilah asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam Ensiklopedia bid’ah hal. 221).

Selanjutnya, pemaparan bid’ah bisa dilihat di sini sebagai rujukan.

Demikianlah sedikit yang saya dapat sampaikan. Memang, dalam menyikapi permasalahan semacam ini, masih sangat perlu belajar banyak. Pun saya menulis ini bukan karena saya ilmunya sudah banyak. bahkan masih belum ada apa-apanya dibanding para pembaca yang budiman. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan, saya juga belum banyak ilmunya, masih belajar, kalau ada masukan silahkan dishare ke saya. Semoga Allah merahmati dan meridhoi apa yang menjadi aktivitas kita, Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s