Memetik hikmah dari Kisah sahabat Rasul

Kita rindu rumah tangga seperti keluarga Ali dan Fatimah. Rumah yang menyaksikan si kecil Hasan, Husein, dan Zainab menangis karena roti berbuka mereka tidak segera diberikan kepada peminta-minta.

Kita rindu rumah seorang Anshar yang menidurkan anak-anaknya dalam rasa lapar, kemudian berpura-pura mati lampu dan mengerik piring kosong di kegelapan untuk meyakinkan tamunya bahwa mereka juga makan sebagaimana sang tamu dijamu. “Allah tertawa menyaksikan tingkah laku kalian semalam!” Kata Rasulullah keesokan paginya.

Kita rindu kebandelan balita seperti Musa, kemuliaan remaja Ismail, sabar dan cerdasnya Hajar, bijaksananya Luqman, serta mesranya Muhammad dan manjanya Aisyah hadir ke rumah kita. Ah, kita akan membawa kerinduan ini, kerinduan pada rumah yang bercahaya. Kita akan memaknainya sebagai inspirasi peradaban atau lebih dari itu. Biarlah ia menjadi inspirasi meraih surga.

— Salim A. Fillah, dalam Barakallahu Laka.. Bahagianya Merayakan Cinta

Mengutip dari kata-kata ustad Salim di atas. Benar sekali, aktivitas saya saat ini –disela-sela bertugas sebagai fisioterapis– adalah membaca buku karya beliau. Ada banyak hal menarik yang saya petik dari buku ini. Salah satunya adalah tulisan beliau di atas. Dan, yang paling menarik adalah kalimat yang saya garis bawahi.

Entah, rasanya saya takjub ketika anak kecil seusia mereka sudah mengerti arti dari memberi. Lihat saja, ketiga anak kecil itu dituliskan sampai menangis-nangis hanya karena roti berbuka yang tidak segera diberikan kepada si peminta. Adalah mungkin sangat jarang sekali, anak dengan ego yang masih sangat tinggi, dengan kerendahan hatinya mau memberikan roti berbukanya. Siapa yang mau?

Lantas, mengapa bisa begitu baiknya si anak? Siapalah lagi kalau bukan orang tuanya yang mengajarkan kebaikan dan menularkannya kepada si buah hati. Sejujurnya, sekali lagi, saya takjub !

Lalu, coba lihat garis bawah kedua. Bagaimana mungkin Allah bisa tertawa melihat tingkah laku sebuah keluarga unik, yang rela perutnya terlilit lapar dan melakukan trik sederhana hanya untuk menipu si tamu. Sekali lagi, menipu !

Entah, aku sendiri tak begitu paham harus menulis apa lagi. Aku hanya takjub. Tiadalah contoh yang lebih menawan, yaitu contoh dari Rasul-Nya dan sahabat-sahabat Rasul dalam membina semua hal, terutama hal ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s