Al-Qur’an : Tak Pernah Salah

Malam selepas maghrib tiba, aku dan ayah menunggangi motor lawas yang sedari dulu aku sudah tunggangi sejak tiga tahun lalu, menelusuri jalan-jalan desa untuk kembali ke rumah. Di tengahnya, saat kami sedang asyik-asyiknya memandangi sekeliling, tetiba ayah menyapa seorang lelaki tua yang berjalan sedikit membungkuk, “Mari pak.” Sapa ayah sambil melambaikan tangan seraya melontar senyum kepadanya, lalu dibalas senyum olehnya.

“San, kamu tau siapa yang baru saja kusapa?” Ayah bertanya kepadaku tiba-tiba.
“Aku tidak tau, yah. Memang, orang tua itu siapa?” Tanyaku keheranan, seperti ada yang ingin disampaikan darinya.
“Itu ayahnya bos di tempat kerjamu, dokter laki-laki yang mewawancaraimu saat tes penerimaan pegawai baru sebulan lalu.” Jawab beliau.
“Eh, ayah? Bukannya rumah dokter –dan otomatis lelaki tua– itu di desa sebelah? Lalu, apa urusan orang tua itu mampir ke desa ini?” Kali kesekian aku bertanya keheranan.
“Entahlah, mungkin beliau di sini untuk mengunjungi sanak familinya. Kau tau kalau bapak tua itu adalah ayah sambungan bosmu?” Ayah bertanya lagi, membuat aku semakin penasaran.
“Ayah sambungan? Ayah tiri maksudnya, Yah? Kok bisa begitu? Bagaimana ceritanya?” Aku mencecari ayah dengan berbagai pertanyaan, “siapa suruh dirimu memancing rasa penasaranku, Yah.” Gumamku dalam hati.
“Sabar, sabar. Jadi begini, dokter itu adalah anak suami pertama dari ibunya, jadilah dia anak tiri dari bapak tua yang aku sapa di jalan tadi.” Ayah membalas santai.
“Ayah tiri? Bagaimana bisa ibunya berpisah dengan ayah biologis si dokter, Yah? Meninggalkah? Sakitkah? Atau apa?” Lagi, kucecar beliau ini dengan banyak kata tanya.
“Kamu ini, kalau sudah penasaran, nggak sabaran ya?” Ayah tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, lucu melihat tingkahku yang kian kepo.
“Suaminya yang meninggalkan ibu dari bosmu, entah dimana sekarang dia berada. Aku juga kurang paham apa motifnya. Spekulasiku karena si suami tersebut merasa ada sesuatu hal yang kurang pas dengan si ibu, atau karena si suami nggak rajin solat? Sebab, memang hari-harinya tak pernah terlihat ke masjid, kata orang-orang terdekatnya. Entahlah, Tuhan lebih paham.” Jawab ayah.
“Yah, katanya orang baik untuk orang baik, dan orang jahat untuk orang jahat, bagaimana hal semacam ini bisa terjadi?” Sekelebat aku teringat kutipan ayat Qur’an yang artinya kira-kira semacam itulah.
“Ya itu buktinya, si suami dengan sendirinya pergi, meski sudah sama-sama menikah, akhirnya Allah memisahkan keduanya, lalu digantikan dengan lelaki yang lebih taat, ya kira-kira setara lah dengan ibunya bosmu itu.” Lagi, ayah menjawab santai, sebuah jawaban yang aku sama sekali tak terpikir sekaligus menutup mulutku rapat-rapat.

Baiklah, dari sini aku mulai paham, dan semakin paham. Sebab, tak ada satu ayat pun yang keliru, tak sedikit pun keragu-raguan tersirat di dalamnya. Bincang-bincang petang itu lagi-lagi membuat pola pikir lurus kembali, tak ada satu hal yang mampu menandingi kedigdayaan Tuhan semesta alam. Sebab, skenario-Nya lah yang paling indah dalam menyatukan dan memisahkan hati manusia, mencocokkan antara baik dengan baik, buruk dengan buruk melalui kuasa-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s