Belajar Hidup dari Orang Sakit

“Mas, apa kondisi bapak saya ini bakal membaik dan bisa jalan lagi?” Tanya seorang lelaki berusia empat puluhan tahun kepada saya. Sudah beberapa hari ini, kondisi ayahnya, dari hari ke hari tidak juga ada perubahan.

Usianya terpaut empat puluh tahun lebih tua dari lelaki tersebut. Semenjak hari pertama masuk rumah sakit, sang ayah sudah tidak bisa lagi bicara, matanya sulit untuk terbuka, napasnya tersengal terbalut selang oksigen di hidungnya, di situ pula lah selang NGT terjulur masuk ke sela-sela lubangnya sebab tak mampu lagi si ayah ini melahap makan-minum dengan mulut, lengan dan kaki kirinya lemas namun masih terlihat sedikit otot-ototnya berkontraksi.

“Jadi begini pak, saya akan menjelaskan kondisi si bapak melalui sudut pandang fisioterapi. Setelah saya melakukan pemeriksaan di setiap sendi-sendi lengan-kakinya, bapak ini sebetulnya masih ada kemauan untuk bergerak. Hal ini dibuktikan dengan sikap beliau yang mampu menahan ketika saya coba gerakkan lengan kirinya ke atas kepala, kekuatan ototnya masih ada. Berbeda dengan kaki kiri, sama sekali tidak ada perlawanan. Sebetulnya, saya sama sekali tidak bisa memastikan akan membaik atau tidak, sebab saat ini, kondisi beliau sedang demam, setengah sadar, dan tidak bisa diberi instruksi untuk melakukan gerakan ini-itu di anggota gerak kirinya, sehingga saya sulit untuk memberikan keputusan bahwa bapak akan bisa berjalan. Jadi, sementara ini saya hanya mampu sekedar menggerakkan tangan dan kaki kirinya dibantu penuh oleh saya.” Aku menjelaskan panjang lebar perihal kondisi pasien kepada beliau yang rautnya sudah mulai mengiba. Beliau mengangguk, lalu diam berpikir sejenak, seperti akan mengatakan sesuatu tapi sulit untuk diungkapkan.

“Sudah lima hari bapak dirawat di sini, mas. Saya bingung.” Ujarnya. “Bingung kenapa pak?” Tanyaku penasaran bercampur iba. “Ehm, saya bingung masalah biaya mas, kami dari keluarga kurang mampu, sebenarnya kami ingin memulangkan bapak saja, mengingat keuangan kami yang semakin surut, pun kondisi bapak juga tidak kunjung membaik.” Aku semakin iba, sebab beliau dirujuk ke sini tanpa menggunakan BPJS. Praktis, biaya dari awal masuk sampai hari ini menggunakan biaya sendiri, bukan dari uang iuran BPJS. Aku sendiri tak berani menanyakan mengapa pihak keluarga tidak mendaftar BPJS, sungguh tidak berani, meski sebetulnya sah-sah saja aku bertanya. Menggunakan biaya sendiri jelas menjadi beban bagi siapa saja yang dirawat di rumah sakit. Semua tindakan –termasuk fisioterapi– juga akan masuk rincian yang harus dibayarkan. Sungguh memberatkan. Apa yang aku lakukan tidak menjamin ada kemajuan bagi pasien. Paling tidak, tindakan ku hanya sekedar maintenance kebugaran pasien agar tidak terjadi penurunan, sementara dokter menginstruksikan untuk dilakukan fisioterapi secara berkala, setiap hari.

“Begini pak, kalau dilihat dari kondisinya saat ini, pasien sepertinya belum boleh dipulangkan. Mungkin dokter yang merawat beliau ini juga belum memberi izin untuk pulang. Ehm, begini saja, saya akan ajarkan Anda untuk menjaga kebugaran fisik beliau. Iya, saya akan memberikan program latihan yang harus dilakukan. Sesuai keilmuan yang saya miliki tentunya. Nanti, ketika di rumah, silahkan lakukan apa yang saya ajarkan ini.” Kondisi ini membuatku harus berpikir, bagaimana mengurangi beban keluarga pasien namun di sisi lain, kondisi pasien tetap terjaga. Iya, dengan memberikan home program kepada keluarga pasien. Jadi, mereka tidak perlulah lagi membayar tagihan tindakan fisioterapi untuk hari-hari berikutnya.

Selanjutnya, aku mulai melatih satu-dua gerakan yang boleh dilakukan untuk beberapa hari. Lalu, seumpama kondisi pasien membaik, diberikan lagi latihan gerak yang berbeda, begitu seterusnya. Aku ulangi lagi latihan tersebut sampai keluarga pasien benar-benar paham. Di samping itu, aku juga memberikan penjelasan tentang tujuan diberikan latihan ini-itu, serta posisi apa saja yang pantang dilakukan ketika kondisi pasien sedang belum membaik. Informasi ini perlu diceritakan, sebab untuk memberikan wawasan kepada keluarga pasien tentang manfaat dari latihan-latihan tersebut bila dilakukan secara rutin kepada pasien.

“Terima kasih ya mas.” Ujar bapak empat puluhan tahun itu sambil melempar senyum kepadaku. “Iya, sama-sama pak. Mohon maaf ya pak. Saya sepenuhnya tidak bisa menjamin kondisi beliau ini akan membaik atau tidak. Saya hanya mencoba memberikan apa yang saya bisa kepada beliau. Mudah-mudahan apa yang diajarkan tadi, mampu membuat kondisi beliau lebih baik, paling tidak, stabil.” Aku mencoba menjawab dengan jawaban yang paling bijak. Tanpa pikir panjang, aku berpamitan lalu pergi berlalu meninggalkan mereka.

Seringkali aku berhadapan dengan pasien-pasien yang hidup serba kekurangan. Memikirkan perut saja sudah pusing, terlebih mereka yang masih usia produktif harus terbaring lemas di tempat ini –rumah sakit. Pun, tidak jarang juga aku mengiba pada Tuhan, mengapa Engkau timpakan ini kepada mereka, Allah. Kepada orang-orang yang makan saja kesusahan, mengepulkan dapur saja harus banting tulang.

Seringkali aku berhadapan dengan pasien-pasien yang hidupnya serba kekurangan. Mendengar mereka berkeluh kesah tentang kesusahan-kesusahan mereka menyambung hidup, tentang anak-anak mereka yang mau tidak mau harus menunda pekerjaannya demi menunggui orang tuanya terbaring lemas di pembaringan sehingga mereka juga mau tidak mau berhenti sejenak mengais rupiah.

Seringkali aku berhadapan dengan pasien-pasien yang hidupnya serba kekurangan. Mendengar mereka meratapi nasib, melihat kondisi mereka yang sejujurnya masih memerlukan perawatan lanjutan untuk bisa pulih kembali, tetapi sekali lagi aku tidak tega menyambung hidup dari kesulitan-kesulitan mereka. Lalu pergi, tak tau lagi bagaimana nasib mereka setelah sakit ini.

Seringkali aku berhadapan dengan pasien-pasien yang hidupnya serba kekurangan. Menyandarkan pengobatan gratis BPJS yang masanya tidak genap satu minggu. Lalu pergi, sebab pastilah kebingungan mencari sumber dana tambahan untuk memperpanjang masa perawatan di rumah sakit. Dan lagi-lagi, dengan kondisi yang masih belum juga membaik –membutuhkan perawatan lanjutan, meski ada juga yang membaik.

Dari pekerjaan ini, dari mereka pula aku belajar hidup. Belajar tentang urgensi syukur. Sebab apa-apa yang Allah beri adalah apa-apa yang aku wajib syukuri, termasuk bekerja di tempat ini, melihat mereka-mereka ini, aku bisa terus belajar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s