Oase di Tengah Gurun

Gambir, 4 September 2014
Hari menjelang ashar. Aku sedang asyik bermain gadget. Tiba-tiba datang seorang paruh baya duduk tepat di sebelahku. Aku hanya melirik sambil melepaskan senyum irit padanya.

“Darimana, mas?” Tiba-tiba beliau menyapa aku yang sedang sibuk dengan gadget touchscreen delapan inch.
“Eh, aku dari Depok pak.” Jawabku seperlunya sambil sedikit melempar senyum, lalu sibuk kembali dengan gadget.
“Mau pulang kemana, mas?” Beliau bertanya lagi, mencoba membuka percakapan dan mencairkan suasana.
“Saya mau pulang ke Metro, Lampung, pak. Bapak darimana mau kemana?” Aku mencoba bertanya kepada beliau, tidak enak juga rasanya kalau aku terus-terusan tak peduli dengan orang yang mencoba terbuka denganku dan tidak membalas bertanya. Hal ini juga dibarengi dengan gadget yang aku sudah letakkan di dalam tas. Sebagai bentuk hormat dalam percakapan dua arah.
“Saya dari Bandung, mas. Mau mencari kerja di Jakarta.”
Suasana mulai cair, sedikit demi sedikit kami saling membalas pertanyaan. Beliau bercerita panjang lebar bagaimana ia bisa sampai ke Gambir. Dalam ceritanya, aku dapat mengambil kesimpulan bahwa bapak paruh baya itu sedang kesulitan biaya. Beliau sedang tertimpa musibah, dompetnya raib diambil orang yang berkedok sebagai ibu hamil, begitu ceritanya. Entah benar atau tidak, aku hanya mengangguk. Tapi tidak sepenuhnya percaya. Wajar, di tempat umum seperti ini, rasa-rasanya terlalu naif kalau saya serta merta percaya dengan apa-apa yang orang katakan. Tapi sebenarnya aku juga kasihan seumpama apa yang beliau katakan adalah benar. Bagaimana rasanya orang yang sedang dalam perjalanan tiba-tiba kehilangan barang yang paling vital, dompet dengan segala isinya.

Setengah jam kami bercengkrama, adzan ashar mulai dikumandangkan.
“Eh sudah ashar pak, kita sholat dulu ya, pak.” Kataku sambil menutup percakapan, beliau mengiyakan.
Kami bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah. Tak seperti biasanya, selepas berdoa usai sholat, aku membaca Al-Qur’an. Sebagai pengisi waktu, pikirku. Sementara aku membaca qur’an, beliau duduk di luar. Entah apa yang beliau tunggu, aku atau orang lain. Aku mulai sedikit ke-geer-an. Aku sengaja berlama-lama tilawah, kalau dia benar jujur, dia akan menungguku, dan -mungkin- menerima bantuanku, gumamku. Dari dalam aku lihat gerak-gerik gelisah darinya. Mungkin dia memang orang jujur, pikirku lagi. Aku tutup qur’an ku, bergegas keluar masjid. Tapi sayang, aku kalah cepat. Belum sempat aku tegap berdiri, beliau sudah hilang ditelan kerumunan orang di stasiun. Aku duduk kembali, mengecek gadget yang sedari tadi tak terurus. Baru sebentar utak-atik gadget, tiba-tiba suara khas terlantun dari gadgetku. “Ah, lowbet, aku harus segera recharge gadget ini.” Pikirku mulai panik. Bergegas aku mencari tempat yang menyediakan jasa charge hape. Tidak seperti biasanya, tempat sekelas stasiun gambir rupanya sulit ditemukan tempat free charger. “Ah, mungkin aku belum maksimal menelusuri tempat ini, aku yakin pasti ada tempat yang dimaksud.” Aku mencoba menghibur diri. Setengah jam aku mencari, namun tak juga ditemukan. “Bagaimana mungkin tempat se-vital ini tidak ada jasa free charger? Aku bergumam kesal. Disaat pikiran sedang kalut, tiba-tiba terpikir orang yang kutemui tadi. Bagaimana keadaannya sekarang, apa dia masih mencari bantuan, atau sejenisnya. “Andai saja aku lekas-lekas memberi sedikit uang yang ada di saku celanaku kepada beliau, mungkin nasibku tidak akan sesulit ini.” Pikirku. Aku ingat akan kata-kata seseorang, “kalau mau dimudahkan urusanmu, maka mudahkanlah urusan orang lain.” Begitu katanya. Dan kata-kata ini terbukti benar, aku kelabakan mencari tempat free charger yang sampai saat ini aku belum juga temukan.

Aku pasrah, lalu memutuskan untuk beristirahat di selasar masjid. Samar-samar aku lihat kotak amal di balik pintu masuk. Uang receh yang ada di saku ku keluarkan satu per satu, lalu kumasukan dia ke dalam kotak tersebut. “Tuhan, engkau tau apa yang aku rasakan. Mudah-mudahan engkau bayar lelahku dengan sedikit uang ini.” Dibalik kepasrahan itu aku masih mencoba menenangkan pikiran, berpikir positif bahwa pertolongan-Nya pasti datang, meski di tengah kelelahan hamba-Nya. Iseng-iseng aku berjalan ke tempat penitipan sepatu yang ada di dekat tempat wudhu wanita. Tanpa disangka aku melihat tulisan ‘free charger’ tepat di tembok yang ada di pintu masuk masjid sebelah timur lengkap dengan empat ‘colokan’ yang masih kosong, belum ada seorang pun memakainya. Seperti orang yang menemukan oase di tengah panasnya gurun, begitulah rasanya. Aku lekas-lekas mengambil gadget dan kabel chargeran, dan menyambungkan sumber daya ke gadget. Oh Tuhan, ini jawaban dari doa hamba-Mu yang kesusahan. Satu pelajaran yang aku ambil dari apa yang aku alami hari ini :

Teruslah beharap pada-Nya, sebab Dia-lah sebaik-baiknya tempat berharap, dan hanya pada-Nya lah manusia meminta. Selelah apapun ragamu, sesulit apapun keadaanmu, teruslah berharap, sebab Dia tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s