Mahasiswa Tingkat Akhir

Di suatu pagi, April 2014.
Pagi ini, mentari sudah nampak batang hidungnya, sudah memancarkan pendarnya ke seantero nusantara. Duduk di teras rumah seorang teman sambil diiringi tembang melankolis –satu rindu, lagi-lagi, menulis.

Menulis sebuah ‘curhatan’ di blog gratisan sambil memandangi langit biru, cerah pagi ini. Mengalirkan beberapa isi otak dan mengubahnya ke dalam deret huruf yang teratur, sebuah tulisan yang sangat sederhana di suasana sesantai ini.

Rasa-rasanya, suasana santai seperti ini mengingatkan kepada yang jauh di seberang sana, tanah dimana aku hidup, dibesarkan oleh orang-orang hebat –bapak, mami– di bawah atap yang sejuk dikelilingi pepohonan rindang, sejuk sekali. Rasa santai ini berbeda, sulit untuk sekedar dijelaskan melalui tulisan, berbeda saja rasanya.

Merindukan suasana rumah, suasana hangat yang ada di dalamnya, suasana bebas melakukan apa saja tanpa harus dibarengi rasa ‘nggak enakan’, melihat-lihat sekeliling rumah, sekedar memberi makan binatang peliharaan di belakang rumah setiap pagi, melihat ayam, bebek, itik dan ternak lainnya mematuki dedak yang sudah dicampuri air alakadarnya, membersamai bapak menuju masjid ketika muadzin mengumandangkan adzan, berkeliling di sekitar kota dengan sepeda motor kesayangan tanpa harus diselingi macet di tiap-tiap sudut kota. Ah, kangen.

Semester ini hampir usai, terhitung kurang dari dua bulan lagi saya menyelesaikan studi saya di semester terakhir, setelahnya sidang dan wisuda, In shaa Allah. Lulus, satu kata yang semua mahasiswa tunggu-tunggu. Mau setelah lulus akan jadi apa, kemana, dan bagaimana, terserah. Yang penting lulus dulu. Begitulah.

Sedikit cerita yang saya sedang pikirkan saat ini. Hidup sebagai mahasiswa tingkat akhir rupa-rupanya mampu membuat saya bingung, tapi bukan galau. Mungkin ini yang sebagian besar mahasiswa tingkat akhir rasakan. Setelah lulus mau kemana? Pertanyaan yang lumayan sulit untuk dijawab. Baiklah, saya mencoba memaparkan apa yang saya akan lakukan ke depan, tentang harus kemana saya setelah lulus.

Begini, sejujurnya saya juga masih belum begitu yakin dengan apa-apa yang saya sudah susun ini, boleh jadi melenceng jauh dari harapan, atau sesuai dengan apa-apa yang saya sudah rencanakan. Sejujurnya, dari hati saya yang paling dalam, saya ingin sekali pulang –setelah lulus, rindu dengan suasana rumah, ingin sekali dekat-dekat dengan orang tua. Bukan berarti saya anak manja, bukan. Tapi saya ingin membersamai mereka di hari-hari mereka yang tersisa, ‘mengurusi’ dan menjaga keduanya. Namun di sisi lain, saya juga ingin sekali melanjutkan studi saya ke jenjang yang lebih tinggi, sarjana. Iya, saya bingung. Itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s