Membungkam Ayah

Siang itu berita di televisi sangat menarik. Pasalnya, ada seorang dokter yang berpangkat letkol. Ini hal baru buat saya. Serta merta saya menanyakan hal ini kepada Ayah yang kebetulan sedang duduk di sebelah saya.

“Yah, aku baru tau kalau dokter juga mampu berpangkat militer.” Kataku.
“Ya, begitulah San. Biasanya itu dokter yang bekerja di rumah sakit-rumah sakit militer seperti yang ada di kota-kota besar.” Timpalnya santai.
“Lalu, apakah hanya dokter yang boleh bekerja di sana dan mendapatkan pangkat kemiliteran?” Tanyaku semakin penasaran.
Lagi, dengan santainya ayah menjawab sambil mengepulkan asap rokok ke udara. “Tentu saja tidak, tenaga kesehatan seperti perawat, dan lain sebagainya juga bisa. Termasuk profesimu, fisioterapi. Kalau saja kamu mau bekerja di sana, akan banyak tunjangan dan makmur tentunya. Punya pangkat kemiliteran pula.” Tambahnya.
“Begitu Yah? Lantas, kalau aku bekerja di sana, mengais-ngais hidup di sana, siapa yang akan menjaga masa tuamu kelak di sini, Yah? Siapa yang mengurusimu ketika sepuh? Ketika kakimu mulai lemas untuk sekedar berdiri?” Aku mencoba menjawab lebih bijak dari biasanya. Dan, yang terjadi adalah Ayah tidak lagi menjawab pertanyaanku, dia bisu sejenak, entah mungkin kagum dengan jawabanku, atau karena beliau sudah tak mau lagi menjawab pertanyaan retorisku.
Yap, baru kali ini aku mampu menang dalam obrolan ringan dengan beliau. Biasanya beliau selalu saja bisa menjawab apa-apa yang aku tanyakan, namun sekarang, aku menang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s