Keluarga dan Peradaban

Berkeluarga. Kata orang, membina suatu keluarga adalah salah satu cara untuk membina umat, membangun peradaban. Bukan pemikiran yang salah saya rasa. Bagaimana tidak, sebuah negeri adalah keluarga-keluarga kecil yang terhimpun dalam suatu tempat.
Dari situlah akan terlihat bagaimana peradaban penduduk negeri tersebut. Logisnya, ketika peradaban itu baik, maka keluarga-keluarga kecil itu juga baik. Jika ditelusuri lebih lanjut, siapa yang membuat ‘peradaban baik’ tersebut? Bukan serta merta turun dari langit lalu menjadi baik, bukan simsalabim lalu menjadi luar biasa beradab. Tapi melalui proses dari orang-orang baik di dalamnya yang mengubahnya menjadi baik.

Menjawab pertanyaan di atas, motor dari terbentuknya keluarga baik adalah pasangan lelaki-wanita yang baik. Mereka membina anak-anaknya untuk melakukan yang baik-baik. Pun dengan diri mereka sendiri. Memberi contoh baik agar ditiru oleh anak-anaknya. Nah, dari sinilah peran orangtua dipentingkan. Seorang ayah misalnya, bukan hanya bertanggung jawab mencari uang untuk menghidup-hidupi keluarganya atau ‘membudaki’ wanitanya. Kodratnya, lelaki adalah pemimpin bagi wanitanya, anak-anaknya dan dirinya sendiri. Dia berkewajiban untuk membawa keluarganya agar terhindar dari ‘api neraka-Nya’. Oleh karena itu, perlu pengetahuan yang kuat tentang agama. Karena hanya dengan memaknai dan mengamali ilmu agamanya, si ayah bakal mampu menjauh-jauhkan keluarganya dari ‘siksa-Nya’ sehingga sudah pasti apa-apa yang dia lakukan adalah agama landasannya, bukan yang lain.

Yang kedua, ini yang terpenting, ibu. Inti dari keluarga adalah sosok seorang ibu. Betapa tidak, perannya sangat vital sebagai pembentuk karakter anak. Dari rahim ibu inilah lahir penggerak negeri, penentu peradaban. Tugas dari ibu ini sebenarnya lebih berat dari sang ayah. Kenapa? Karena ibu mengurus semuanya. Mengurus anak, suami, pekerjaan -apabila dia wanita karir-, rumah, dan dirinya sendiri. Dalam hal mengurus anak, seorang ibu jelas harus memiliki jiwa keibuan yang kuat. Karakter seorang guru yang penyayang, pengayom, dan disukai oleh anak-anak harus ada di dalam jiwa seorang ibu. Iya, sejatinya semua ibu adalah guru, guru bagi anak-anaknya. Seorang guru jelas harus memiliki ilmu yang kuat, ilmu yang baik karena akan ditularkan kepada sang anak. Jelas, agama menjadi pondasi dari ilmu-ilmu yang akan diajarkan. Maka dari itu sang ibu harus paham betul ilmu agama. Peran ibu juga sebagai seorang istri bagi suaminya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, Hadits, dan buku-buku agama lainnya. Istri harus mampu memberikan pelayanan yang paling baik kepada suaminya. Simpelnya saja, ketika suami pulang kerja, disambut dan disuguhkan teh hangat. Dan, ia harus patuh apapun yang suaminya bilang, selama masih dalam kebaikan.

Masih ada banyak lagi yang harus dilakukan oleh seorang ibu, masih ada banyak lagi yang harus dikerjakan oleh ibu untuk membentuk anak-anaknya, untuk menjadi pengingat bagi suaminya. Melihat peran dari seorang ibu di atas, maka saya tidak main-main dalam memilih ibu dari anak-anak saya, pun begitu dengan saya. Saya akan berusaha serius dalam proses memperbaiki diri guna memimpin keduanya -anak dan istri- kelak. Selamat mencapai tahapan-tahapan hidupmu, ibu. Mari bersama-sama memantaskan diri.

— Doa yang tak pernah lepas untaiannya
September, hari ke empat, dua ribu empat belas
02.13 WIB. @hasannuruddin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s