Edisi Papandayan : Menuju BIVAC

Jumat, 6 Juni 2014
Pukul 19.30 WIB

Sleeping Bag, logistik, matras, kompor portable, gas kaleng dan jaket serta perlengkapan remeh temeh lainnya sudah terbungkus di dalam cariel bag.
“Okey, siap berangkat.” Aku bergumam. Perjalanan panjang ini bermula dari stasiun pondok cina. Aku dan tiga orang teman yang berangkat dari Depok berkumpul di sini.
Sudah lewat 5 menit semenjak kereta menuju jakarta kota meninggalkan pondok cina. Aku masih diam, sedikit mengeluh.
“Jika mengangkat beban seberat ini dari pintu masuk stasiun ke dalam kereta saja sudah lelah, bagaimana mendaki puncak Papandayan selama lebih kurang dua jam nanti dengan membawa beban yang sama beratnya dengan yang aku bawa sekarang.” Aku sama sekali tidak habis pikir, mengapa seberat ini barang bawaan yang aku harus jinjing dipundakku, mengapa sebanyak ini barang yang masuk dalam cariel bag-ku ini. Beruntung, penumpang menuju jakarta kota tidak terlalu ramai di malam hari, jadi aku berkesempatan untuk duduk di bangku kereta, tidak harus menjinjing beban seberat itu di kereta. Paling tidak, ada waktu untuk otot-otot pundakku beristirahat.

Lewat setengah jam semenjak kereta meninggalkan stasiun keberangkatan. Kereta yang kami tumpangi sudah perlahan berhenti di stasiun manggarai. Kami transit di stasiun ini sebelum kami melanjutkan kereta menuju stasiun buaran, tempat dimana markas bivac berada.
“Oy, kalian sudah sampai di sini ternyata, aku sudah setengah jam menunggu kalian di sini. Ayo bergegas ke peron lima.” Fahmi, teman satu kelas yang juga ikut dalam pendakian kali ini. Ditemani Deisy, Mona, Dela, Dewi, mereka sudah lebih dulu sampai di manggarai.
Tak berapa lama, kereta menuju buaran itu sampai di manggarai, begitu pintu terbuka, kami langsung bergegas memasukkan tas ransel masing-masing ke dalam gerbong kereta. Berbeda dari sebelumnya, kali ini kami tidak mendapat tempat duduk, penumpang menuju buaran kali ini terlampau ramai. “Yasudahlah berdiri saja.” Gumamku, tak mengeluh kali ini, karena memang sudah terbiasa berdiri beberapa lama di dalam kereta. Hanya berselang lima belas menit, kereta kami sudah sampai di buaran, stasiun yang kami tuju. Tepat, di sana sudah berdiri tiga orang lainnya, pasukan kami bertambah lagi. Semuanya tiga belas orang.

“Okey, semuanya lengkap ya tiga belas orang. Setelah ini kita akan menuju basecamp BIVAC. Tempat dimana kita berkumpul dengan peserta yang lain. Yang ikut pendakian ini bukan hanya kita, namun dari berbagai komunitas pecinta alam lainnya.” Begitu kata Dede, penunjuk jalan ke basecamp.
Tak berselang lama, kami menuju basecamp, kami harus berjalan beberapa ratus meter sebelum sampai ke tempat, dengan menjinjing cariel bag yang terlampau berat tentunya. Tidak beruntung, ternyata navigator kami mulai kehilangan arah tujuan karena dia lupa jalan. Alhasil kami harus melewati jalan yang tidak seharusnya kami lewati, dan pastinya lebih jauh. “Ah, kenapa harus nyasar bro, ini pundak rasanya sudah mau copot.” Kataku kepadanya. Pernyataan ku kali ini di-iya-kan oleh anak lainnya, mereka sudah tampak lelah oleh perjalanan yang tidak efisien ini.
Beruntungnya, tidak lama setelah kami mengeluh ini itu, kami bertemu dengan Pak Didin, dosen kami yang juga menjadi anggota komunitas BIVAC, beliau yang akhirnya menunjukkan jalan sampai ke basecamp.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s