Ketika Tuhan ‘mengecewakan’ Hamba-Nya

“Bro, halaqah di masjid sudah selesai? Aku mau ke sana masih bisa?” Tanya Kevin, teman satu fakultas yang sudah sejak lama tidak bertemu tiba-tiba mengirim sms padaku.

“Belum, bro. Ke sini aja, sebentar lagi selesai sih, tapi ya ndak apa ke sini saja, sekalian kenalan sama teman-teman baru di ‘lingkaran’ yang baru.” Ujarku, menjawab pertanyaan singkat darinya.
“Maaf bro, aku sudah di depan, sepertinya memang sudah hampir selesai kalau dilihat dari sini, rampungin saja, biar aku tunggu di depan. Nanti kalau sudah selesai, kenalkan aku kepada mereka ya.” Timpalnya.
“Oke siap.”

***

“Bang Faiz, perkenalkan ini Kevin, teman saya yang kita bicarakan kemarin.” Kataku kepada bang Faiz, tutor halaqah kami yang baru.
“Oh ini Kevin, selamat bergabung dengan kelompok baru ya, semoga menyenangkan dan mendapat ilmu agama yang semakin banyak. Kita sama-sama belajar ya.” Bang Faiz menimpali dengan suara lembut.
“Oh iya terima kasih bang, insya Allah. Saya senang bisa halaqah lagi setelah sekian bulan vakum, mohon bimbingannya.” Balas Kevin.
“Saya pamit dulu ya, semuanya. Jangan lupa sabtu sore kita kumpul lagi, Assalamu’alaikum.” Lambaian tangan bang Faiz menutup perkenalan kami malam ini.

***

“Bro, maaf tadi aku nggak bisa ‘melingkar’, kamu tau kenapa?” Tanya Kevin di tengah perjalanan pulang bersamaku.
“Ya jelas ndak tau lah bro, kamu saja belum cerita. Memangnya kenapa sih, ada apa?” Tanyaku penasaran.
“Tadi waktu aku di depan, aku bertemu dengan muallaf. Dia baru saja menjadi muallaf beberapa tahun lalu di usianya yang ke-55. Dia menceritakan bagaimana sulitnya menjadi seorang muallaf. Bagaimana harus terbuang diantara keluarga yang berbeda keyakinan, mencari kehidupan sendiri dan sekarang dia tidak tau harus kemana. Karena kasihan, aku berikan dia rekomendasi tempat untuk tinggal sementara di kota ini, lantas aku memberikan sedikit rupiah untuk sekedar biaya angkot.” Katanya bersemangat, wajahnya sumringah saat dia bisa memberikan sedikit pencerahan kepada muallaf, mengingat dia juga seorang muallaf.
“Wah, kamu pasti mengerti bagaimana perasaannya, kamu pun pernah melewati masa itu kan?” Lagi, aku bertanya hal menarik padanya.
“Haha, ya hampir semua muallaf juga kemungkinan merasakan hal ini meski dengan cara yang berbeda-beda, bro.” Katanya.
“Eh, ngomong-ngomong, dalam waktu dekat ini ada liburan kemana kamu, aku rencana ingin naik gunung besok.” Tanyaku mencoba mencari topik lain.
“Sebenarnya aku juga naik gunung besok, tetapi aku sedang krisis moneter, jadi terpaksa dibatalkan rencanaku kali ini.” Jawabnya lesu
“Tapi aku masih bingung peralatan apa yang aku harus bawa untuk besok.” Wajahku mulai panik
“Kenapa kamu tidak meminjam alatku saja?” Tawaran Kevin melegakan hati disaat kepanikan mulai datang.

***

“Kamu tau bro, kalau saja kamu tidak menyuruhku untuk datang ke masjid ini, dan seumpama aku mesti kalah dengan kemalasanku untuk hadir di sini, boleh jadi aku tidak menemui bapak muallaf tadi, tidak sempat memberikan sedikit ‘rupiah’ untuknya, ya meskipun aku sedikit kecewa dengan ketidakhadiranku dalam halaqah perdana ini.” Katanya.
“Dan kamu tau, bro, seumpama kamu tidak membatalkan rencana liburanmu ke gunung, boleh jadi aku tidak bisa meminjam peralatan ini padamu.” Jawabku menimpali.
“Selalu ada rencana indah dan unpredictable dari Tuhan bahkan disaat kita merasa ‘dikecewakan’ oleh-Nya.” Kevin, muallaf beberapa tahun lalu.

“Selalu ada rencana indah dan unpredictable dari Tuhan bahkan disaat kita merasa ‘dikecewakan’ oleh-Nya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s