Tuhan, Terima Kasih

Pagi ini, tiga puluh mei dua ribu empat belas.
Ujian akhir semester sudah berakhir, baru saja. Dengan selesainya tahap ini maka selesai juga masa ‘praktik klinik’ di semester enam.

Tidak ada lagi kegiatan bangun pagi, berhadapan dengan status, mengisi form di buku tugas, tutorial, diskusi, meminta nilai dan tanda tangan dari pembimbing, konferensi kasus yang setiap bulan wajib dipresentasikan ke semua pembimbing lapangan, menyiapkan makanan untuk tamu undangan, menelpon pasien untuk konfirmasi kehadiran konfre, dan hal remeh temeh lainnya. Ah, senangnya.
Tuhan, terima kasih atas kesehatan yang engkau telah beri selama ini
Terima kasih atas kesempatan yang engkau telah izinkan kepadaku sampai sejauh ini aku melangkah.
Terima kasih atas segala ilmu yang engkau titipkan kepada para pembimbing untuk disampaikan kepada kami.
Terima kasih atas nikmat lainnya yang aku sudah dapatkan sampai saat ini.
Tuhan, kalau bukan karena kuasa-Mu, tidak mungkinlah aku mampu menjalani tahap ini.
Kalau bukan karena kekuatan-Mu, sudah sedari dulu aku menyerah.
Kalau bukan karena rahmat-Mu, aku tidak akan mendapat ilmu meski hanya sekelumit.
Kalau bukan karena engkau izinkan mereka –ayah, bunda– untuk senantiasa melantun doa untuk suksesku, sudah sejak lama aku gagal.
Tuhan, terima kasih.

Adakah yang lebih hebat dibanding nikmat-Nya? Meski gelimang harta memenuhi isi rumahmu, tingginya jabatan ada di pundakmu, predikat cerdas dan jenius memenuhi otakmu. Adakah?

Advertisements

3 thoughts on “Tuhan, Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s