Ajaran Ayah

Di suatu pagi yang cerah, ayah mengajakku ke halaman rumah. Sambil memegang celurit dan gunting tanaman ayah bertanya, “San, tau apa yang akan kita lakukan pagi ini?” Eh, ini pertanyaan macam apa? Gumamku dalam hati. “Haha, kalau dilihat dari barang yang ayah bawa di kedua tangan ayah, sudah bisa dipastikan kita akan kerja bakti membereskan halaman rumah, benar?”
“Tepat, kalau dari yang kamu lihat, kenapa ayah lakukan ini?” Kedua kalinya, ayah bertanya sesuatu yang absurd, pertanyaan retoris yang tidak perlu dijawab, tapi untuk menyenangkan hatinya, dengan lugas aku menjawabnya. “Halaman kita sudah tidak sedap dipandang, yah. Semak belukar di pinggir parit sudah mengakar, rerumputan liar di sisi jalan juga sudah panjang, perlu sesuatu untuk mengembalikan halaman supaya enak dilihat kembali.” Sambil tertawa ayah menimpali jawabanku “Haha, tumben sekali kamu benar, jawabanmu logis. Lantas, kamu tau kenapa ayah mengajakmu melakukan ini?” Aku terdiam, mengira-ngira apa yang ayah ingin aku jawab. Menjadi tukang pemotong rumput? Menjadi anak rajin? Ah aku menyerah. Aku menggeleng, mengisyaratkan ketidaktahuan atas apa yang ayah telah tanya kepadaku. “Kamu tau, bisa saja ayahmu ini menjadikan kamu anak yang pintar, juara kelas, jago matematika dan bidang akademik lainnya, bisa saja. Ayah akan memanggil guru les yang akan membimbingmu untuk bisa menjadi bintang di sekolahmu, menyumpali otakmu dengan pelajaran-pelajaran yang di sekolahmu ajarkan, lantas kamu akan tersulap menjadi juara kelas. Dan mungkin kamu akan menjadi anak yang study oriented. Hanya belajar terus, berpikir bagaimana cara meraih nilai tertinggi di kelas tanpa memikirkan hal lain. Boleh jadi di sekitarmu ada yang sedang membutuhkan bantuanmu, boleh jadi rumahmu sudah ditumbuhi rerumputan, lumut dan sarang laba-laba dimana-mana sedang kamu masih terus saja mengejar nilai. Apa arti sebuah nilai di sekolah kalau kamu tidak peka dengan lingkungan sekitarmu, nak. Sebab itulah ayah mengajakmu melakukan ini.” Aku terpaku, merenungi apa yang ayah baru saja katakan. Sebegitu jauhnya pemikiran ayah.

— Tulisan ini didedikasikan untuk ayah yang saat ini sedang terbaring di rumah sakit, semoga Allah senantiasa menggugurkan dosamu melalui sakitmu, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat yang besar atas lakumu, semoga Allah angkat penyakitmu dan mengizinkan untuk sehat kembali, Ayah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s