Dari Kartini hingga Ibu

Malam mulai berselimut, suasana pagi sebentar lagi menggantikan malam.
Senyap, pagi yang masih sangat senyap, buta.
Kata orang-orang, ini hari kartini.
Kata orang-orang, ini hari emansipasi.
Sebelum kartini berganti menjadi hari-hari biasanya, saya mencoba menulis, semoga masih belum habis momen kartini di penghujung malam ini.

Kartini, menilik dari sejarah, engkau biasa disebut sebagai pelopor emansipasi wanita –meskipun boleh jadi ada pelopor-pelopor emansipasi lainnya jauh sebelum engkau dilahirkan dan belum sempat terekspos sejarah.
Kartini, engkau bisa terkenal karena menulis, ragam tulisanmu memukau sebagian besar pembaca, menggugah hati orang-orang yang membacanya, sayang, engkau mati muda.

Kartini, engkau sosok wanita muda, sosok ibu muda yang giat sekali memberikan pengajaran kepada setiap orang yang butuh jasa pengajaranmu.
Kartini, engkau ibu
Kartini, wanita, ibu

Ibu, sejatinya aku tidak berniat untuk membandingkanmu dengan sosok kartini
Pun dengan apa-apa yang beliau tanamkan dan lakukan kepada setiap orang
Ibu, aku hanya ingin mengingat-ingat, mengenang apa yang engkau beri pada anak-anakmu yang lalu-lalu, itu saja.
Ibu, seumpama aku bisa mengingat semua, aku akan tulis semua apa-apa yang aku ingat jasa-jasa yang engkau telah beri kapada kami, sayang, kemampuan mengingatku terbatas.

Ibu, kata orang-orang, sifatmu masa bodoh.
Masa bodoh tentang apa yang orang bilang atasmu, engkau tetap berjalan ke depan, melakukan hal-hal yang menurut hatimu benar, dan memang benar
Dan aku suka gayamu yang satu ini.
Ibu, kataku engkau perhatian.
Dari sekian banyak anak-anak ibumu, hanya engkau yang benar-benar totalitas menjaga dan merawat nenek ketika ia terbaring lemah
Ibu, kata bapak, ibu cerewet, pelit.
Coba saja bayangkan ada orang yang bahkan bukan saudara atau tetangga dekat, bapak pinjami dia uang dengan janji dikembalikan, lalu dia pinjam lagi dengan janji yang sama, lantas sampai saat ini janjinya belum sepenuhnya penuh.
Lalu ibu, dengan kemampuan cerewetnya, pelitnya, mempengaruhi, membujuk bapak untuk tidak mudah terpedaya dengan tampang lugu si peminjam, lantas tidak lagi bapak pinjami.
Ibu, kata bapak, engkau pemalas.
Engkau wanita karir, adalah wajib untuk bisa membagi waktu untuk karir dan keluarga. Sering dirimu pulang dengan badan lelah, masih harus melakukan pekerjaan rumah ini dan itu, tidak jarang juga langsung terlelap di kamar. Mestinya aku, dan anak-anakmu lainnya yang menggantikanmu atau membantumu memberesi rumah.

Ibu, aku ingin hidup membersamaimu, tak peduli se-renta apa tubuhmu kelak, aku ingin tetap membersamaimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s