Pulang

Pulang, sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar mahasiswa rantau. Bukan tentang ingin dimanja oleh orang tua, juga bukan ingin di belikan ini itu semaunya. Rindu, itu saja.
Suasana rumah selalu saja menghadirkan kehangatan yang khas, meski seringkali tidak terlalu terasa ketika sudah seringkali bahkan setiap hari berdiam di rumah, tapi kehangatan itu dirindukan saat seseorang jauh dari rumah, apalagi untuk orang yang jarang sekali pulang.

Adalah wajar ketika seorang mahasiswa rantau sering mengalami sindrom homesick, karena mereka benar-benar merasakan kehilangan suasana rumah ketika jauh dari daerah asal. Iya, rindu itu tiba ketika intensitas bertemu sudah tidak se-intens biasanya, bahkan jarang, begitulah. Ibu, ayah, dan orang-orang yang terhimpun dalam suatu rumah –entah itu adik, kakak, atau barang mati sekalipun, mampu menyihir anggotanya untuk tetap terikat.

“Kangen bantal di rumah, kangen adek, kangen ini itu kangen semuanya yang ada di rumah”, kata-kata seperti itu yang sering keluar dari mulut perantau. Senyaman-nyamannya tempat merantau, adalah lebih nyaman di rumah, tempat dimana semua kenangan terbingkai, tempat semuanya bermula, itulah rumah. Semoga saya bisa kembali ke rumah, membersamai keduanya –bapak, mami– dalam mengisi sisa hari-harinya, menjaga, dan menemani mereka, mengabdi sebagai anak yang penuh bakti dan sebagai balasan atas apa-apa yang keduanya telah beri –meski cinta mereka tak akan pernah bisa terbalas lunas. Semoga Allah menghendaki, pulang.

Advertisements

4 thoughts on “Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s