Mereka adalah Guru Saya

Malam ini, masih berada di Bandung. Sedikit ingin bercerita tentang keunikan yang ada di kota ini. Hampir sebulan saya berada di kota ini, tepatnya masa aktif saya di tempat ini tinggal tiga hari lagi. Saya berada di kota ini sedang menunaikan tugas sebagai mahasiswa tingkat akhir, yaitu menjalankan ‘praktik klinik 2’ yang sudah diprogramkan oleh pihak fakultas.

Saya kebetulan mendapat jatah praktik di RSUP Hasan Sadikin. Rumah sakit pusat daerah yang menjadi rujukan di seantero Bandung. Di sini, sudah banyak aktivitas dan ilmu baru yang saya dapatkan, bahkan teman baru. Seperti biasa, rutinitas saya selama hari kerja adalah ber-‘praktik klinik’. Pagi hari, sebelum jam pelayanan dimulai, saya dan teman-teman menjalani tutorial. Tutorial ini adalah presentasi dari kasus yang ditangani oleh mahasiswa pada hari yang lalu-lalu. Jadi, seorang mahasiswa mempresentasikan hasil terapinya dan menjelaskan apa-apa penyakit yang diderita pasien dan bagaimana program terapinya di hadapan mahasiswa lainnya. Setelah dipresentasikan, tidak serta merta selesai, namun masih ada sesi tanya-jawab. Audiens boleh saja bertanya tentang alasan mengapa si mahasiswa tersebut melakukan metode terapi ini dan itu kepada pasien yang bersangkutan, atau bisa juga mengoreksi terapi apa yang baik untuk pasien dengan penyakit demikian. Dari situlah kemampuan kami baik dalam berargumen, dan mempertajam skill dalam menghadapi pasien semakin baik dan terasah. 

Setelah tutorial, kami para mahasiswa praktik mulai bekerja. Dalam sesi ini mahasiswa dibagi menjadi beberapa bagian, ada yang mendapatkan jatah di poli, dan ruangan. Di ruangan pun dibagi-bagi lagi. Ada yang di ruangan anak, dewasa, kasus gangguan neuromuskular, dan beberapa lainnya. Ada kasus menarik yang pernah saya tangani di ruangan anak –bersama pembimbing tentunya. Pasien berumur 12 tahun, dengan diagnosa CP spastik quadriplegi dan komplikasinya yaitu berupa pneumonia, atelektasis paru, TB dan beberapa komplikasi lainnya –yang saya lupa apa saja diagnosanya. Pasien ini sudah sekitar satu bulan dirawat, dengan seluruh anggota geraknya kaku bahkan sudah tampak deformitas –kelainan bentuk tubuh– di kedua anggota gerak atas dan bawah, disertai skoliosis, bahkan kekakuan ototnya sudah menjalar sampai ke otot pernapasan dan leher sehingga napas dari pasien tersebut terlihat sesak, cepat, dan dangkal. Melihat kondisi ini, saya jadi ingat dosen saya pernah mengatakan mengenai TBI (total body involvment), kondisi TBI ini adalah kondisi yang mirip sekali seperti yang saya telah jelaskan di atas. Semua badan kaku bahkan sampai ke otot leher dan otot pernapasannya. Kondisi ini biasanya terjadi salah satunya karena komplikasi tirah baring lama (long bedrest). Mulanya, anak hanya kaku pada keempat anggota gerak, tetapi karena lama sekali kekakuan tersebut tidak ditangani –penanganan yang terlambat– menyebabkan kekakuan tersebut menjalar sampai ke otot pernapasan. Miris sekali melihatnya, bahkan saya sampai bergumam bahwa pasien ini sudah tidak memungkinkan untuk sembuh –kecuali Tuhan berkata lain. Kasus di ruangan selalu membuat saya dipaksa berpikir berulang kali, mungkin seumpama saya menjadi orang tua si pasien, saya sudah pasrah bahkan boleh jadi putus asa. Saya dipaksa berempati terhadap pasien. Pernah dosen saya bilang “tenaga kesehatan itu kerjanya memanusiakan manusia.” Dari sini saya belajar bersyukur, ternyata masih sangat banyak manusia yang jauh lebih tidak beruntung daripada saya.

Adalagi kasus –masih tentang anak, kali ini berada di poliklinik. Pasien menjalani rawat jalan. Kasusnya sama, seorang anak berusia 3,5 tahun didiagnosa CP spastik quadriplegi. Seluruh anggota geraknya kaku, sulit digerakkan terlebih saat kondisi pasien tersebut menangis. Riwayat penyakit yang didapatkan setelah bertanya kepada si ibu, ternyata didapati anaknya terdiagnosa CP karena tertular TB oleh kakeknya. Pasien sangat dekat dengan kakeknya sehingga tertular oleh si kakek ketika mereka sedang tidur berdua. Si kakek pun belum lama tahu bahwa dirinya terjangkit TB setelah diperiksa dokter. Nahasnya, TB yang menjangkiti si anak tersebut menyerang di selaput otak –meningen– si anak ketika berusia 2,5 tahun sehingga terkena meningitis. Sebelumnya, si anak tumbuh kembangnya normal, mampu bernyanyi seperti anak-anak seusianya. Tapi setelah terjangkiti bakteri tersebut, seketika tangan dan kaki pasien kaku. Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya tidak bisa bermain lagi seperti dulu hanya karena tertular penyakit dari sang kakek. Lagi, kondisi ini membuat saya dipaksa berpikir, ternyata banyak pelajaran yang saya ambil dari pasien saya, wajar kalau mereka saya beri label sebagai guru saya.

Bersambung…

Advertisements

2 thoughts on “Mereka adalah Guru Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s