Sesuatu dibalik Kebosanan

Apa kau bilang? Bosan? Hey sobat, bukan hanya kamu, pun aku merasa bosan dengan semua ini, atau mungkin bukan hanya kita yang merasakan kebosanan ini, teman-teman lainnya juga mungkin sama bosannya dengan kita.

Kita bisa bayangkan bagaimana setiap hari harus menjalani hari-hari yang itu-itu saja, tak ada pola yang berbeda, selalu sama hari kemarin, hari ini, dan besok. Kita harus bangun pagi-pagi sekali ke tempat ini, sesampainya di sini masih harus melaksanakan tutor –presentasi kasus penyakit pasien yang pada hari sebelumnya telah ditangani– di hadapan pembimbing rumah sakit dan teman-teman satu kelompok, belum lagi setelahnya harus menangani pasien yang jumlahnya tidak sedikit, lelah pasti. Lalu sore hari, selepas ashar kita masih berkutat dengan status pasien, menulis laporan dari apa-apa yang kita telah lakukan terhadap pasien di lembar formulir fisioterapi, dan formulir tersebut masih harus didiskusikan dengan pembimbing rumah sakit pada hari itu juga untuk ditutorialkan esok hari –pada hari yang telah ditentukan sesuai jadwal–. Setiap minggu terakhir kita masih saja berkutat dengan konfre –sejenis presentasi kasus pasien dengan menghadirkan pasien langsung dan mempraktekan bagaimana terapi terhadap penyakit yang diderita pasien di hadapan semua para undangan yang tidak bukan adalah perwakilan pembimbing dari setiap poli–. Bukan hanya tenaga atau bahkan pikiran kita yang terkuras, uang kita sedikit demi sedikit mulai terasa sempit, ah ujian ini seperti tidak adil, kan? Bayangkan mereka di rumah sakit berbeda yang paginya tidak ada tutorial serutin kita, itu pun pembimbing rumah sakit yang memberikan ilmunya –dari berbagai kasus yang telah ditangani– langsung kepada mahasiswa, mereka juga tidak selalu diskusi setiap sore, dan jumlah pasien juga tidak sebanyak di sini bukan? Lalu di akhir bulan ketika konfre tiba, mereka tidak harus menghadirkan pasien, hanya sekedar presentasi kasus di hadapan para pembimbing rumah sakit. Tapi kamu tahu sobat? Kita ditempatkan di rumah sakit ini, digembleng sedemikian rupa, itu untuk melatih kedisiplinan kita, output yang menjadi titik fokus mereka. Coba lihat, bandingkan bagaimana hebatnya kita, detailnya kita dalam membuat status pasien, dokumentasi pada lembar formulir fisioterapi, mereka belum se-expert kita dalam hal ini, lalu masalah ilmu, kita sedikit lebih banyak daripada mereka, kenapa? Karena ini rumah sakit rujukan nasional, berbagai macam pasien dari seantero nusantara dengan penyakit yang berbeda-beda datang ke tempat ini hanya untuk berobat, bahkan ada yang sampai tinggal di daerah sekitar rumah sakit. Artinya kita lebih banyak menangani pasien dengan berbagai macam keluhan penyakit dan lebih paham bagaimana harus melakukan terapi. Kompleks sekali bukan? Ternyata Tuhan menyelipkan suatu kelebihan untuk kita dibalik semua hal yang kita anggap tidak adil ini. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menahan sedikit kebosanan tersebut, atau kita refreshing saja untuk menghilangkan kejenuhan?

— Pras, Cinta tak Berujung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s