Presiden Baru, Ngaruh Buat Hidup Gue?

Ini tulisan yang jarang sekali saya tulis. Langsung saja, ini tulisan tentang politik. Saya pikir ini bukan sesuatu hal menarik untuk orang-orang apatis, yang tidak peduli tentang perpolitikan. Rumit memang, mirip dengan benang layang-layang yang sudah tidak rapi lagi. Njelimet, begitu bahasa gaulnya.

Politik, sekali lagi, dunia ini identik dengan perebutan kekuasaan. Kamu tau? Berbagai cara dilakukan untuk meraih tampuk kekuasaan, tujuannya jelas, ingin berkuasa, melakukan ini itu tanpa kesulitan berarti, semua menjadi mudah kalau seseorang sudah berkuasa, bukan? Tak heran, cara-cara kotor, jorok, biadab, bahkan mematikan pun boleh jadi dilakukan untuk meraih kekuasaan.

Kalau kita bicara kekuasaan, politik, tahun ini adalah tahun-tahun panas. Dimana nanti, pada bulan dan tanggal yang telah ditentukan, orang-orang se-Indonesia akan merayakan hajat besar yang katanya dinamakan demokrasi, begitu. Iya, demokrasi. Kita ambil garis besarnya saja, tujuan dari pemilu adalah salah satunya untuk memilih presiden, bukan? Mari di sini kita berperan sebagai orang awam, yang bahkan sama sekali belum pernah belajar tentang ilmu politik atau apalah itu disebutnya.

Sebagai orang awam, kita tentu tidak terlalu mengerti secara detail tentang hal yang seperti ini. Politik itu banyak sekali permainan di dalamnya yang bahkan orang seperti kita terlalu rumit untuk mempelajari, mengikuti atau bahkan menebak-nebak apa yang terjadi setelahnya. Dalam permainan pemilihan presiden misalnya. Saya pernah bilang bahwa dengan tulisan, penulis akan mampu menggiring pemikiran orang lain untuk secara tidak sadar mengiyakan apa yang ditulisnya. Iya, seperti itulah, saya akan mencoba menggiring pembaca untuk perlahan mengiyakan apa-apa yang saya tulis di sini. Kalau kita lihat beberapa tahun belakangan, banyak media-media elektronik, media massa, media apapun itu yang sudah mulai meracik bumbu-bumbu persaingan politik. Mulai dari blowing up popularitas capres, cagub, dan ca-ca lainnya. Kasus korupsi daging ini itu, kasus video porno, pelecehan seksual, pencemaran nama baik, dan hal lain sebagainya. Bahkan sampai saat ini peran media masih sangat vital terlebih menjelang pesta rakyat tersebut.

Yang perlu digarisbawahi di sini adalah sudah benarkah berita-berita yang dimuat oleh media? Sudah akurat kah? Atau hanya sekedar bayaran? Hanya sekedar ingin mengadu domba, memecah belah sebagian masyarakat dengan masyarakat lain dengan opini dan berita-berita yang dimuat di media? Jawabannya mungkin benar, mungkin bayaran, mungkin memang untuk mengadu domba atau memecah belah. Bisa jadi hal itu terjadi dan amat mungkin.

Bisa jadi aktivitas-aktivitas sekecil apapun yang di blow up oleh media terhadap suatu tokoh, boleh jadi hanya untuk meningkatkan popularitas dari tokoh tersebut sehingga menarik simpati dari sekian juta rakyat Indonesia. Boleh jadi berita tentang korupsi impor daging sapi atau daging apalah itu namanya digunakan untuk mendeskreditkan suatu lembaga melalui oknum yang mungkin ketahuan berbuat kurang baik sehingga citra suatu lembaga tersebut menjadi buruk hanya karena keburukan satu orang. Jelas, masyarakat secara serta merta men-judge dan melabeling lembaga tersebut sebagai lembaga yang korup, tidak bersih, sok suci, pinter ngaji doang tapi boroknya keliatan.

Ini yang patut kita tata kembali pemikiran kita. Meski di sini peran kita sebagai orang awam yang masih lugu terhadap dunia perpolitikan bahkan apatis, mestinya kita lebih bisa meningkatkan kecerdasan kita, sedikit saja. Selugu apapun kamu, jangan terlalu mempercayai media. Jangan mentang-mentang ada berita yang agak nyentil dikit, langsung dikomen, langsung dijudge ini itu. Jangan terlalu lugu lah, jangan ditelen begitu saja apa-apa yang disampaikan media. Boleh jadi berita yang ditulis media tersebut adalah berita pesanan, atau media yang memuat lembaga survey calon presiden terbaik versi ini itu, boleh jadi itu juga pesanan. Lalu siapa yang memesan? Pernah baca novel tere liye yang judulnya negeri di ujung tanduk? Disitu dibahas tentang mafia hukum. Tau mafia hukum? Mafia hukum itu oknum-oknum bayangan yang tidak terlihat bahkan batang hidungnya namun nyata pengaruhnya di dunia maya maupun dunia nyata. Yang jelas mereka orang jahat. Iya seperti itulah, kita tidak tau siapa oknum pemesan berita tersebut, namun sejatinya ada.

Jadi intinya adalah, kita sebagai orang awam mesti lebih cerdas sedikit, sedikit saja dalam memahami media. Jangan juga apatis terhadap dunia politik. Mau siapapun presidennya, nggak bakal pengaruh sama kehidupan gue, begitu? Ya jelas berpengaruh lah sob. Coba dipikir simpel saja. Saya dulu tidak memilih SBY dalam perhelatan pemilu tahun 2009 karena saya masih belum cukup umur. Dulu juga saya berpikir tidak ada pengaruhnya sama sekali apa-apa yang dilakukan SBY terhadap hidup saya. Tapi nyatanya tidak begitu, setelah beberapa tahun pemerintahan SBY, harga bensin naik, barang-barang menjadi lebih mahal, biaya hidup otomatis meningkat, lalu saya makan pakai apa kalau tidak pakai nasi, lauk pauk, cemilan dan sejenisnya. Lalu beli nasi, lauk pauk dan macam itu pakai apa kalau tidak pakai duit? Lalu bagaimana saya bisa menghemat kalau harga makanan hampir setiap tahun naik, saya mau beli barang ini itu pakai uang tabungan saya menjadi lebih lama dan lebih mahal. Seperti itulah simpelnya. Jadi sekali lagi saya tekankan, mari menjadi orang Indonesia yang cerdas. Jangan mau menjadi pengikut orang yang pelan-pelan menjerumuskan kita ke jalan yang lebih rumit. Sekian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s