Pembekalan Praktik Klinik I

Hari ini, tepat sehari sudah aku kembali mengabdikan ‘aku’ ke tanah rantau, Depok. Karena hari ini pula aku memilih untuk pulang lebih awal dari biasanya. Berat sebenarnya meninggalkan kampung halaman, tanah kelahiran yang sudah terlanjur cinta padanya. Apalagi bagi seorang mahasiswa perantau. Pulang kampung adalah momen paling krusial yang ada dan harus ada dalam masa-masa dia menjadi mahasiswa. Bagaimana tidak, di kampung inilah dia bisa seenaknya mengisi perut ketika kehidupan di rantau mengharuskan dia untuk menghemat. Istilah yang kerap disebut mereka (mahasiswa rantau) adalah momen perbaikan gizi.

Selain itu, momen pulang kampung adalah momen dimana sang mahasiswa bisa bertemu langsung dengan orang tuanya, saudara-saudaranya, dan yang paling mainstream adalah pujaan hatinya (yang ini kalau doi sama-sama satu daerah, kalau beda ya lain lagi cerita), senang tidak senang yang pasti. Mereka juga bisa saling bertemu dengan teman-teman satu almamater baik di SMA, SMP, SD bahkan TK (kalau masih ingat wajah-wajahnya sih). Iya, siapa yang tidak senang ketika bisa bertemu teman-teman seperjuangan ketika masih mengenyam pendidikan menjadi seorang siswa dahulu. Cerita-cerita masa lalu, masa sekarang atau bahkan masa depan selalu saja tersaji dalam keceriaan momen ini, walau hanya sekedar kongkow nggak jelas. Namun ada juga cerita dimana mahasiswa perantau tersebut menjadi pembantu rumah tangga. Iya, harus melakukan ini itu, kalau di kosan atau di kontrakan biasanya bisa tidur-tiduran setelah kuliah, atau minimal mengejar deadline. Waktu tidur tersebut harus diganti dengan pekerjaan menyapu, mencuci piring dan hal-hal ribet yang lain. Sebenarnya tergantung sama perspektif mahasiswa itu sendiri sih. Kalau niatnya memang untuk membantu orang tua, bukan menjadi suatu beban yang berarti buatnya.

Oke-oke, kembali ke tanah rantau. Menurut jadwal, kegiatan hari ini adalah pembekalan praktik klinik I untuk persiapan praktik pada satu semester ke depan. Jadi wajar kalau teman-teman yang berasal dari daerah sebagian besar sudah kembali ke Depok. Praktik Klinik I atau yang biasa disebut PK I ini adalah salah satu rangkaian praktik yang harus dijalani oleh mahasiswa tingkat akhir dimana keterampilan dan keilmuan dipadupadankan dan diimplementasikan ke dalam dunia kerja. Iya, kami terjun di rumah sakit yang nantinya bukan lagi berhadapan dengan teman, boneka, atau sejenisnya. Tapi langsung berhadapan dengan pasien. Di pembekalan kali ini kami ditempatkan di dua rumah sakit, separuh jumlah mahasiswa di RSCM dan lainnya di RSPAD Gatot Subroto.

Pembekalan kali ini kami diberi wawasan bagaimana menjadi praktikan yang baik, dari segi attitude terutama. Bukan cuma itu, kami juga diberi gambaran mengenai kondisi lapangan dan teknis pelaksanaannya. Nantinya setiap bulan selama satu semester (terhitung 4 bulan) mahasiswa yang sudah dibagi berdasarkan kelompok ditempatkan secara bergilir di setiap poliklinik. Ada poli anak atau pediatri, poli neuromuscular, poli musculoskeletal, dan poli kardiorespirasi dan akan dipandu oleh fisioterapis di setiap poli. Ada hal yang menarik di sini, menurut cerita, ada salah satu poliklinik di RSCM yang paling ditakuti oleh seantero mahasiswa fisioterapi UI yang sedang PK. Di poli ini nanti akan dipandu oleh tiga fisioterapis (yang juga dosen kami) handal dan terkenal disiplin. Menurut pengalaman kami di semester lalu, ada saja satu atau dua orang yang nangis ketika selesai ujian praktek oleh beliau-beliau ini. Rasanya ada hawa yang bisa dibilang agak menyeramkan ketika berhadapan dengan mereka. Aku sendiri pun juga merasakan hal yang sama, tapi nggak sampai nangis juga. Sampai-sampai angkatan kami menyebut mereka dengan sebutan ‘trio macan’. Iya sesuai namanya, beliau-beliau ini ketika di panggung sering sekali mengeluarkan auman yang khas yang ditujukan kepada mahasiswa. Pantas kalau mahasiswa merasa ketakutan menghadap mereka, meskipun kami tau bahwa ada kebaikan tersirat dibalik aumanya. Dan ada satu lagi yang perlu digarisbawahi, banyak mahasiswa binaan dari mereka yang expert setelah keluar dari tempaan ‘trio macan’, dan lagi momen inilah yang paling berkesan dari setiap rangkaian PK yang akan kami jalani. Sayangnya hal ini hanya terjadi di RSCM. Beruntungnya, aku menjadi salah satu dari sekian mahasiswa yang akan merasakan momen berkesan ini. Merasakan auman ketakutan dan kerasnya tempaan dari mereka.

Sekarang di pikiranku terfokus pada PK I ini, sebuah aktivitas yang butuh perjuangan, berjuang untuk rela menjadi ikan pepes setiap pagi karena harus berdesakan dengan penumpang KRL menuju RSCM, harus rela berangkat pagi pulang sore lalu dilanjut kuliah sampai malam, harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk biaya transport dan lain sebagainya. Semoga dikuatkan, semoga Allah beri kesehatan yang kontinyu dalam PK I ini. Sekian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s