Hafidz Indonesia, Tontonan Menjelma Tuntunan

‘Amma yatasaa ‘aluun. ‘Aninna ba il ‘adhiim. alladzi humfiihim mukhtalifuun. Kalla saya’ lamuun. Tsumma kalla saya’ lamuun. Alam naj’alil ardho mihaada. Waljibaala autadaa. Wa kholaqnaa kum azwaaja. Waj’alna naumakum tsubaata. Waj’alna laila libaasa. Waj’alnannaharo ma asyaa…

Aku lihat dia, seorang anak manusia yang masih seumur jagung dengan fasihnya menggerak-gerakkan bibirnya melantunkan surat pembuka juz terakhir dalam Al-Qur’an. Tanpa teks, tanpa bantuan orang lain. Iya, dia hanya mengandalkan perbendaharaan hafalan yang ada di otaknya. Lancar sekali.

Aku diam, menyimak dan sesekali mengikuti lantunan surat yang dibacakan anak itu. Kebetulan surat tersebut sedang aku hafalkan, jadi ya aku ikut-ikutan membaca sambil mengingat-ingat hafalanku.

Aku diam, hanya bisa terpaku, sesekali bibirku komat-kamit melantunkan hafalanku yang belum tuntas. Terus, terus saja aku mengikuti alur bibirnya yang bergerak lihay.

Aku diam, termenung, semakin aku ikuti lantunannya, semakin aku meresapi surat tersebut dan mengagumi sosok mungil itu. Entah mengapa semakin lama mataku tak mampu menahan airnya. Tumpah ruah membanjiri pipi, suara sesenggukan yang aku sulit membungkamnya. Bukan wajahnya yang aku kagumi, tapi kemampuannya dalam menghafal yang membuat aku kepincut. Subhanallah, anak sekecil ini sudah mampu menamatkan juz terakhir dalam Al-Qur’an.

Aku diam, aku berkaca, aku mulai membandingkan. Di umur yang masih ‘secuil’ itu dia sudah mampu menghafal juz ‘Amma. Lalu aku? Apa yang sudah bisa aku perbuat di umur tersebut? Sekali lagi aku berkaca.

Dahulu murabbi ku pernah bertanya. “Apakah kamu beriman kepada kitab Allah?”. “Ya” jawabku. “Lalu, apa buktimu beriman kepada kitab Allah?” tanyanya lagi. “Aku setiap minggu paling tidak membaca setengah halaman Al-qur’an”. “hanya setengah halaman? Lalu apalagi buktimu?”. Aku diam, hanya  itu yang saat itu aku bisa lakukan untuk Qur’an, hanya membaca, itu pun tidak setiap hari. Batinku keruh, apa yang harus aku jawab. Tiba-tiba beliau berkata lagi “Hafalkan Al-Qur’an sebagai tanda kamu mengimani kitabmu, kalau kamu belum sanggup menghafal 30 juz, maka hafalkanlah juz 30 terlebih dahulu.” begitu kata beliau. Kata-kata yang paling aku ingat, kata-kata yang merobohkan ketidakmungkinanku dalam menghafalnya, meskipun pada awalnya sulit dan memang butuh konsistensi dalam menjaga hafalan.

Iya, sedikit demi sedikit aku coba untuk menghafalnya. Benar, bantuan Allah datang bagi orang-orang yang serius. Aku mulai hafal beberapa surat pada juz ‘Amma, aku mulai mengerti pentingnya menghafal Qur’an. Dan tayangan Hafidz Indonesia ini semakin membuatku malu sekaligus sadar agar kelak anak-anakku, yang pertama kali ia dengar, bukan lantunan lagu-lagu klasik atau lagu-lagu pop kenamaan atau dan sejenisnya. Namun lagu-lagu yang langsung berasal dari Tuhan. Iya, lantunan ayat Al-Qur’an.

Allahumma mudahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s