Zakat Fitri dan Apa-Apa yang Ada di Dalamnya

Alhamdulillah, setelah sekian lama vakum dari dunia tulis-menulis, akhirnya saya kembali ke dunia tersebut. Lagi-lagi karena malas dan sifat moody saya yang masih sampai saat ini seringkali muncul. Sebenarnya ada banyak sekali hal-hal yang sudah mengendap di kepala saya untuk dituangkan ke dalam tulisan dalam blog ini. Tapi sekali lagi, dua sifat yang sudah saya sebut di atas masih saja hobi menggerogoti diri saya. Oke tanpa panjang lebar saya kali ini bakal nge-share tentang ilmu perzakatan. Terutama zakat fitri (nama yang masyhur di kalangan masyarakat luas biasanya zakat fitrah). Kenapa saya ambil bahasan tentang zakat fitri? Jawabannya jelas sekali, karena saat-saat sekarang ini adalah saat dimana bulan Ramadhan hampir usai, dan biasanya masyarakat di negeri ini marak melaksanakan tugas tunaikan zakat ini. Simak..!

 

Dasar Penamaan

Di kalangan para  ulama, nama zakat ini  lebih populer disebut dengan zakat fithri atau shadaqah fithri. Kata fithri sendiri memiliki makna berbuka dari puasa Ramadhan (Fathul Bari, 3/367). Dari kata tersebut, zakat fithri memiliki hubungan dengan ketersediaan bahan pangan untuk disantap bagi fakir miskin pada hari raya Idul Fitri.

 

Faidah Zakat Fithri

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasullah mewajibkan zakat fithri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa  yang mengeluarkannya sebelum sholat, ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa mengeluarkan setelah sholat, ia menjadi sedekah biasa (HR. Abu Dawud)

Dari hadits di atas, maka dapat diambil intisari sebagai berikut  : 
1. Zakat fithri adalah wajib
2. Zakat Fithri adalah sebagai pembersih bagi orang-orang yang berpuasa dari perkataan     kotor dan tidak bermanfaat serta sebagai makanan bagi fakir miskin yang saat itu tidak     memiliki persediaan makanan
3. Dibayarkan sebelum sholat idul fitri

 

Hukum Zakat Fithri

Dari Abdullah ibnu Umar bahwa Rasulullah telah mewajibkan zakat fithri pada bulan Ramadhan terhadap setiap jiwa muslimin. Orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, kecil maupun besar sebanyak satu sho’ kurma atau gandum (HR. Muslim dalam Shahih Muslim 3/308)

Juga berdasarkan penafsiran Said bin Musayyib dan Umar bin Abdul Aziz terhadap firman Allah dalam surat Al-A’la ayat 14 :

“Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya dengan zakat fithri”

Demikian pula dengan ijma’ (konsensus) para ulama menetapkan wajibnya zakat fithri, (lihat Al-Ijma’ karya Ibnu Al-Mundzir halaman 49 dinukil dari Shahih Fiqhus Sunnah II/79-80)

Dengan melihat keterangan di atas, maka zakat fithri hukumnya wajib dikeluarkan bagi :
1. Muslim
2. Mampu, sebagaimana firman Allah :
    “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Al-Baqarah:       286)

Adapun batasan mampu menurut mayoritas ulama adalah memiliki kelebihan makanan bagi dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya pada malam dan siang pada hari idul fitri. Sabda Rasulullah :

“Barangsiapa meminta-minta sedangkan dia mempunyai sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia sedang memperbanyak dari api neraka (dalam riwayat lain bara api jahannam).” Mereka berkata “Wahai Rasul, bagaimana ukuran (harta itu) mencukupi?” Rasul menjawab “Seukuran makanan yang mengenyangkan sehari semalam.” (HR. Abu Dawud 1/512 no. 1629. Hadits ini dinilai shahih oleh syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, lihat Shohih Fiqhis Sunnah II/80)

3. Merdeka/hamba sahaya
4. Laki-laki/perempuan
5. Anak kecil (bukan termasuk janin yang  ada di dalam kandungan)
    Dahulu Ibnu ‘Umar menunaikan zakat anak kecil dan dewasa sehingga dia dulu benar-benar       menunaikan zakat anakku (HR. Bukhari dalam Kitabuz Zakat bab 77 no. 1511, Al-Fath 3/375)

 

Dibayarkan dengan Apa?

Imam hadits Ibn Hajar al-Asqalani dalam Bulugul Maram mengutip beberapa hadits berikut :
Abu Said Al-Khurdy ra. berkata : Pada zaman Rasul kami selalu mengeluarkan zakat fithri satu sho’ makanan, atau satu sho’ kurma, atau satu sho’ sya’ir (gandum), atau satu sho’ anggur kering (Muttafaqun ‘Alaih) dalam riwayat lain atau satu sho’ susu kering. Abu Said berkata : Adapun saya masih mengeluarkan zakat fithri seperti yang aku keluarkan pada zaman nabi. Dalam riwayat Abu Dawud : Aku selamanya tidak mengeluarkan kecuali satu sho’ (lihat Bulughul Maram hadits no. 648)

Hadits lain menyebutkan :

Rasulullah telah mewajibkan zakat fithri sebanyak satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum. Kewajiban itu dibebankan kepada budak, orang merdeka, laki-laki dan wanita, anak kecil dan orang tua dari kalangan orang Islam, dan beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju sholat ‘Ied (HR. Bukhari II/547 no. 1432, Muslim II/679 no. 986)

Jadi, menunaikan zakat fithri boleh dengan satu sho’  :
1. Makanan
2. Kurma (tamrin)
3. Sya’ir (gandum)
4. Buah anggur
5. Susu kering

Kata makanan maksudnya adalah makanan pokok penduduk suatu negeri baik berupa gandum, jagung, beras atau lainnya. Yang mendukung pendapat ini adalah riwayat Abu Sa’id yang lain :
Ia mengatakan : “Kami mengeluarkan zakat fithri berupa makanan di zaman Rasulullah pada hari Idul Fitri. Abu Sa’id mengatakan lagi : ‘Dan makanan kami saat itu adalah gandum, kismis, susu kering, dan kurma’.” (HR. Bukhari dalam kitabuz Zakat bab Shadaqah Qablal Id, Al-Fath 3/375 no. 1510)

Adapun satu sho’ sama dengan 2,157 kg (lihat Shahih Fiqhis Sunnah II/83). Ada pula yang menetapkan bahwa satu sho’ sama dengan 2 kg lebih 40 gr sebagaimana hasil penelitian Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (lihat Syarhul Mumti’ VI/176-177).

Ada pula yang menetapkan satu sho’ sama dengan 2,5 kg sebagaimana yang berlaku di Indonesia. Sedangkan menurut hasil penelitian Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan dipakai dalam fatwa Lajnah Daimah kerajaan Arab Saudi bahwa satu sho’ sama dengan 3 kg (lihat fatwa Ramadhan II/915 dan II/926, lihat juga fatwa Lajnah Daimah no. 12572)

 

Bolehkah Zakat Fithri dikonversi dengan Uang?

Ada beberapa poin yang mendasari boleh tidaknya zakat fithri dikonversi dengan uang. Antara lain sebagai berikut : 

  1. Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi berkata : “Zakat fithri wajib dikeluarkan dari jenis makanan, dan tidak menggantinya dengan uang, kecuali karena darurat (terpaksa).” (lihat Minhajul Muslim hal. 231)
  2. Menurut tiga imam (Syafi’i, Maliki, Hambali) tidak diperkenankan mengeluarkan zakat fithri dengan uang (Yusuf Qardawi, Fiqih al-Zakah Dirasah Muqaranah li ahkamiha wafalsafatiha fi dhau-i al-qur’an wa al-sunnah vol. II (Beirut : Muassasah al-Risalah, 1991) 948)
  3. An-Nawawi mengatakan : “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i sepakat bahwa tidak boleh mengeluarkan zakat dengan uang.” (Al-Majmu’ 5/401)
  4. Ibnu Qudamah mengatakan : “Yang tampak dari mazhab Ahmad bahwa tidak boleh mengeluarkan uang pada zakat.” (Al-Mughni 4/295) Pendapat ini yang dipilih oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dan Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan (lihat Fatawa Ramadhan 2/918-928)
  5. Imam Hanafi dan al-Tsauri berpendapat bahwa nash hadits tersebut hanya ukuran makanan yang mengenyangkan sehingga tujuan diperintahkan zakat fithri itu sebenarnya lebih mengarah kepada bagaimana agar fakir miskin itu dapat kenyang dan terhibur pada suasana hari raya Idul Fitri, tidak harus berupa makanan seperti kurma, sya’ir atau makanan pokok yang lain, tetapi apa saja yang bisa membuat fakir miskin kenyang dan terhibur. Dalam hal ini menyerahkan zakat fithri dengan uang bisa lebih maslahah bagi orang-orang miskin karena pemanfaatannya bisa lebih leluasa. Pemahaman ini berangkat dari hadits Nabi yang menegaskan bahwa pada hari raya itu orang-orang miskin harus dicukupi kebutuhannya (HR. al-Daruquthni dan al-Baihaqi). Menurut Ali Thantawi, yang menjadi patokan adalah apa yang menjadi mashlahat bagi kaum fakir miskin (Ali Thantawi, Fatwa-Fatwa Populer Ali Thantawi  (Solo : Era Intermedia, 1998) 290)
  6. Abu Syaibah meriwayatkan dari ‘Aun ia berkata : “Aku telah mendengar surat Umar bin Abdul Aziz yang dibacakan pada ‘Adi, Gubernur Basrah bahwa zakatnya diambil dari gaji pegawai kantor, masing-masing setengah dirham” (Qardhawi, Fiqih al-Zakah vol. II, 948)
    Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Zuhair, ia berkata : “Aku menjumpai mereka menunaikan zakat fithri beberapa dirham senilai makanan” (diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 3/174).
    Maksud dari perkataan ‘menjumpai mereka’ adalah menjumpai para tabi’in dan sebagian sahabat, sebab Abu Ishaaq termasuk golongan tabi’iy pertengahan yang menjumpai beberapa orang sahabat Nabi. 
  7. Imam Hasan berkata : “Tidak mengapa dikeluarkan beberapa dirham untuk zakat fithri.” Abu Ishaaq berkata : “Aku mendapatkan orang-orang membayar zakat fithrinya pada bulan ramadhan beberapa dirham seharga makanannya.” (Qardhawi, Fiqih al-Zakah vol II, 948)

 

Sasaran Zakat Fithri

Zakat fithri dituntunkan untuk diberikan kepada beberapa asnaf (penerima zakat) sebagaimana hukum secara umum tentang zakat mal yaitu 6 golongan penerima zakat lainnya (At-Taubah ayat 60) akan tetapi zakat fithri ditekankan pada dalil yang lebih khusus yaitu diberikan untuk orang-orang miskin

Dari Ibnu Abbas ra. berkata bahwa Rasulullah telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan jiwa orang-orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin (HR. Abu Dawud I/505 no. 1609, Ibnu Majah I/585 no. 1827. dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Irwa’ Al-Gholil III/333)

Inilah pendapat yang dipegangi para ulama pengikut mazhab Imam Malik dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa (XXV/71-78), Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (II/44). (lihat shahih Fiqhis Sunnah II/85)

 

Bolehkah Amil (Panitia Zakat) Menerima Zakat Fithri?

Berkenaan dengan ini, Majelis Tarjih dan Tajdid telah menyidangkan pada Jum’at, 4 Zulhijjah 1428 H/14 Desember 2007 M yang menyatakan bahwa Amil yang mengumpulkan dan membagikan kepada fakir miskin tidak berhak menerima atau mengambil bagian dari zakat fithri sedikitpun dengan sebab mereka sebagai  pengurus atau panitia zakat. Tetapi, amil boleh mengambil/menggunakan harta zakat fithri untuk urusan administrasi, transportasi  dan hal lain yang berhubungan dengan biaya operasional jika memang tidak ada sumber dana lain.

 

Waktu Pelaksanaan

Waktu pelaksanaan zakat fithri adalah sebelum berangkat sholat Idul Fitri. Sebagaimana sabda Rasulullah :

Rasulullah telah mewajibkan zakat fithri sebanyak satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum. Kewajiban itu dibebankan kepada budak, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari kalangan umat Islam. Beliau memerintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju sholat Idul Fitri (HR. Bukhari II/547 no. 1432, Muslim II/679 no. 986, dan selainnya)

 

Sumber : Tuntunan Ramadhan oleh Burhan Isro’i, S.Pd.I diterbitkan oleh Majelis Tabligh PD Muhammadiyah Kota Metro

 

Demikianlah pembahasan mengenai zakat fithri (atau yang lazim disebut zakat fitrah). Semoga bermanfaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s