Rabu, 19 Juni 2013 : Kamu masih disayang Allah :)

Selasa 18 Juni 2013, 19.30 WIB

Kala itu tiba-tiba Hilda, teman seperjuangan di Lembaga Dakwah Fakultas, FOKSI Vokasi UI menge-chat ku melalui WhatsApp, begini tulisannya :

Hilda : “Besok itu maba vokasi ada San?”
Aku : “Iya, hari ini aja udah ada”
Hilda : “Laah, ada yang salah nih, kamu dimana?”
Aku : “Di kontrakan, salah gimana?”
Hilda : “Tentang pendataan”
Aku : “Salahnya dimana?”
Hilda : “Hasan bisa ketemu aku, kita ngomongin ini langsung”
Aku : “Sekarang?”
Hilda : “Iya, aku baru selesai syuro, kita ketemu di margonda aja ya buat ngomongin pendataan
besok, kita nggak ada waktu lagi nih”
Aku : “Oh, oke-oke tunggu ya”
Hilda : “Aku tunggu di martabak alim ya”

Saat itu juga aku bergegas melajukan motorku menuju martabak alim, tetapi sebelum itu aku ditemani teman satu kontrakan ku, Imam, menuju ke PHD terlebih dulu untuk memenuhi bonus pizza yang sebentar lagi akan habis waktunya. Setelahnya aku bertanya lagi kepada Hilda dimana letak martabak alim tersebut, sejujurnya aku belum pernah kesana. masih dengan WhatsApp kami berinteraksi, “Hil, dimana, aku nggak tau nih?” Tanyaku panik. “Dari sevel lurus aja, nanti ada gerobak healty beans, nah disitu juga ada martabak alim, aku disitu” jawabnya. Pelan-pelan motor kukendarai, nyatanya belum ketemu juga dimana letak martabak alim tersebut. “Ketemu di sevel aja lah Hil, nggak tau aku dimana martabaknya” kataku sedikit dongkol. “ya Allah, kirain kesini, yaudah tunggu ya” jawabnya.

***

“Dimana sih martabaknya, aku cari nggak ketemu-ketemu deh?” tanyaku. “Itu masih lurus sana, yaudah tuk kita cari tempat duduk” jawabnya santai. “Oke-oke, maaf yaa” kataku.
“Jadi mau ngomongin apa nih, kayaknya urgent banget sampe harus ketemuan malem-malem?” tanyaku penasaran. “Iya, jadi besok itu waktu terakhir PMB, kita harus dapet data maba vokasi untuk kita ikutkan mentoring”. Jawabnya terburu-buru. Panjang, penjelasan yang lumayan memakan waktu banyak saat itu, aku pikir memang sudah seharusnya Lembaga Dakwah melakukan pendataan maba untuk diarahkan mentoring.

20.00 WIB

Kami selesai melakukan pembicaraan intens dan strategi kerja yang dilakukan esok hari, dengan segala ke-mendadakan-nya dan persiapan yang belum matang sama sekali, mau tidak mau kami, saya khusunya harus menjalankan amanah ini, karena esok dia tidak berada di kampus.

Rabu 19 Juni 2013, 06.00 WIB

Ketika itu aku baru bangun dari tidur, maklum, salah satu kebiasaan yang sampai sekarang masih sangat sulit sekali untuk ditinggalkan, apalagi kalau bukan begadang. Tiba-tiba handphone ku bergetar dan membunyikan nada dering tanda panggilan masuk. “Hilda, nelpon pagi-pagi?” tanyaku keheranan dalam hati. Lalu aku angkat panggilan telpon darinya. “…..tuuut…tuuut…tuuut…” bunyi suara telpon yang tandanya dia sudah mematikan telponnya. Tiba-tiba pemberitahuan WhatsApp masuk ke handphone ku. “Bang, kak Hilda kecelakaan di margonda, sekarang dirawat di RS Margonda”. Sebuah pesan dari Afif, kepala divisi yang juga satu divisi dengan Hilda yang mengurusi pembinaan kader di LD fakultasku. Sebuah pesan yang membuatku terkejut, padahal baru semalam kita bertemu membicarakan masalah pendataan mahasiswa baru. Iya, langsung aku bergegas menuju rumah sakit, biarlah, biar pikiran semalam lenyap diterpa angin. Yang aku pikirkan saat ini bagaimana keadaan dan keselamatan Hilda. Bukan apa-apa, sebagai ketua Badan Pengawas, pemegang kekuasaan tertinggi dalam struktural LDF, aku merasa bertanggung jawab atas apa-apa yang terjadi pada anggotaku. Iya, karena pada hakikatnya seorang pemimpin dituntut untuk ‘tanggap’ lebih dulu atas kondisi anggotanya. Benar saja, sampai disana, ada beberapa teman kuliah dan murobbiah (mentor halaqoh) Hilda. Langsung aku temui beliau, orangnya asyik, luwes, dan tidak kaku. Ku tanyakan segala sesuatu yang menyebabkan Hilda sampai seperti ini. Beliau menceritakan semuanya, mulai dari kronologis kejadian dan lainnya. Sampai pada akhirnya aku diinstruksikan oleh beliau untuk menggalang donasi dalam membantu kesembuhan Hilda. Langsung aku menyebarkan berita ini ke seluruh grup yang ada di kontak WhatsApp ku.

“Hasan, saya sudah transfer sejumlah uang untuk membantu kesembuhan Hilda ke rekeningmu ya, maaf hanya sedikit, semoga bermanfaat :)”, begitu bunyi pesan yang sekejap menyelusup

ke dalam inbox handphone ku. Bukan hanya sekali, beberapa kali pesan serupa ‘membombardir’ handphone ku. Terkejut, baru kali ini aku menerima begitu banyak pesan yang bahkan dari seseorang yang aku sendiri tidak pernah bertemu dan mengenalinya, suatu sambutan dan apresiasi yang luar biasa dari semua kalangan yang tergerak hatinya dalam membantu menyembuhkan apa-apa yang sekarang Hilda, saudari kami sedang alami.

Selang beberapa waktu kemudian, teman-teman akhwat FOKSI berdatangan, mereka menanyakan kondisi yang sedang dialami Hilda saat ini. Tiba-tiba kami dipanggil oleh dokter untuk melihat hasil rongent untuk mengetahui seberapa parah kondisi patah tulangnya. “Coba lihat ini, jadi di kaki kiri pasien yaitu di dua tulang (tibia dan fibula) mengalami patah tulang, di sini juga terlihat serpihan-serpihan dari patahan tulang tersebut, jika kondisinya seperti ini, kami menyarankan untuk operasi pemasangan pen pada tulang yang patah.” kata dokter yang baru saja melakukan rongent tersebut. Dari arah luar menuju pintu masuk terlihat Pak Wawan, kepala kemahasiswaan Program Vokasi UI yang langsung datang menemui kami untuk menanyakan kondisi Hilda. ‘Bagaimana kondisi dia saat ini, baik-baik saja?” tanya beliau. ‘Saat ini Hilda mengalami patah tulang, Pak, dan dokter menyarankan untuk melakukan operasi.” jawabku. “Coba tanyakan berapa biaya operasi di bagian administrasi, Hilda akan coba saya pindahkan ke RS fatmawati, saya akan mengurusya.” balasnya lagi. “Oke baik, pak.” aku menanggapi.

“Pak, barusan saya mendapat kabar dari Afif bahwa biaya oprerasi dan perawatan sekitar dua puluh juta, sedangkan untuk biaya rongent berkisar 2,3 juta rupiah.” kataku kepada Pak Wawan. “Oke, saya akan bayar biaya yang 2,3 juta itu dan akan mencoba mengurus asuransi dari Hilda, tolong ajak satu temanmu ke RS Fatmawati bareng Mas Deki untuk booking kamar.” begitu instruksi beliau kepada kami. Pada akhirnya satu diantara kami pergi untuk menjalankan instruksi dari beliau. Peran murabbiyahnya Hilda sangat terlihat di sini, beliau menginstruksikan para akhwat untuk mengatur jadwal jaga harian dan mengamanahkan kepada saya untuk mengurusi masalah administrasi dan pendanaan. Iya, saya mengamanahkan kepada salah satu akhwat lain untuk memegang uang donasi yang sampai saat ini sudah terkumpul. bukan hanya via transfer, namun bantuan tunai juga sudah banyak terkumpul.

13.00 WIB

“Bro, kami udah berusaha cari kamar di sini, tapi untuk saat ini Hilda diarahkan ke ruang IGD untuk diperiksa ulang sama dokter yang di sini, nanti sama beliau akan ditunjukkan kamarnya.” begitu bunyi sms dari teman kami yang ada di sana. Saat itu juga Hilda langsung dibawa ke Fatmawati dengan ambulan.

14.00 – 22.00  WIB

Kami sudah berada di Fatmawati, pada waktu-waktu ini adalah waktu yang paling lama, dimana kami harus mengurus administrasi, menunggu pemeriksaan dari dokter dan kejelasan kamar. Pada saat ini juga lah kami banyak menerima donasi dari para domatur melalui rekening. Kami juga menerima kunjungan dari berbagai elemen di UI, mulai dari teman-teman BEM se-UI, teman-teman aktivis Lembaga Dakwah, dan masih banyak lagi. Saya jadi berpikir bahwa momen yang jarang terjadi ini merupakan salah satu momen yang bisa mengeratkan ukhuwah kita. Saya merasa kekeluargaan dari anggota FOKSI ini sendiri terasa begitu kental. Hebat, mana mungkin seorang teman mau bersusah payah mengurusi hal-hal macam ini. Ketika ada satu teman yang mengalami kesulitan, maka beberapa bahkan sebagian besar dari kami mau mengorbankan waktunya untuk membantu saudara kami. Iya, kami di sini terikat oleh ukhuwah, bukan lagi ego yang bermain di sini, tapi kami lebih memikirkan bagaimana caranya agar saudara kami cepat kembali sembuh, agar dia bisa berkumpul seperti sedia kala. Apresiasi tak kalah pentingnya dari masyarakat mampu mengcover sebagian besar biaya pengobatan Hilda. Sekali lagi, ini bukan keberuntungan, Allah yang menggerakan hati-hati mereka, hati-hati kami dalam membantu kesembuhan Hilda, satu kata saja yang membuat kami tergerak, ukhuwah.

23.00 WIB

Pada akhirnya Hilda mendapat kamar, mereka para akhwat membereskan tempat dan mempersilahkan kami masuk melihat keadaan Hilda. Iya, aku lihat raut kelelahan dari wajahnya yang tertidur nyenyak, namun untuk sebuah ukhuwah, kami tidak pernah lelah 🙂

Satu pelajaran berharga yang aku dapatkan saat itu, lalu aku bersama seorang temanku pulang untuk beristirahat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s