Ayah, sosokmu paripurna

Kali ini saya mencoba menuliskan sosok yang paripurna di mataku, sosok yang selalu saja bisa menjadi inspirasi, terlebih pada kehidupan ku sehari-hari. Sosok yang selalu saja bisa membuat sifat, sikap, dan segala apa yang ada dalam pribadiku berubah. Bukan berlebihan ketika aku menilai beliau seperti itu, memang seperti itulah faktanya. Dialah ayah, seorang kepala keluarga, seorang pemberi contoh dalam kebaikan, seorang pendidik dan pengarah untuk hal-hal yang benar.

Pernah pada suatu ketika meja makan di rumah hanya berisi beberapa lauk dan sedikit nasi, iya, naluri seorang ayah pasti tidak akan tega membiarkan anaknya ‘kelaparan’, lebih baik beliau yang harus menahan lapar daripada membiarkan anaknya dalam kondisi perut kosong. Banyak peristiwa yang membuat aku harus mencontohnya dan aku berubah darinya. Beliau mengajarkan kepada semua anak-anaknya tentang bagaimana menjadi pribadi yang sehat. Beliau membelikan kami raket, bet, bola dan segala macam alat olahraga yang bisa membuat jasmani kami sehat.

Beliau yang mengajarkan kami sholat di awal waktu, bukan tepat waktu. Aku mengerti, paham sekali bahwa beliau bukan seorang da’i yang hafal berbagai macam dalil, beliau juga bukan penghafal Al-Qur’an, namun beliau adalah tipikal aplikatif. Tidak banyak teori yang beliau sampaikan, namun lebih ke penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau juga yang mengajarkan kami sedekah, mengajarkan kami bagaimana menjadi orang yang teratur, menjadi orang yang kreatif.

Pernah beliau berkata kepadaku “Bapak ini bisa saja membuat kamu jadi anak pinter, membuat kamu jadi anak yang nilai rapotnya 9 semua, tinggal bapak kasih aja kamu ke tempat bimbel. Tapi bukan yang kayak begitu yang bapak mau, bapak pengen jadiin kamu anak yang tanggap sama lingkungan, anak yang kuat agamanya”. Iya, seperti yang saya telah jelaskan tadi bahwa sosok ayah adalah sosok yang tidak terlalu banyak dipenuhi ilmu-ilmu hadits atau hafalan lainnya. Namun aplikasi dalam kehidupan sehari-hari sangat terlihat. Mengenai beberapa metode yang beliau ajarkan agar kami peka terhadap lingkungan adalah kami diajarkan memotong rumput dengan sabit, menggali lubang dengan cangkul. Memang pada awalnya itu berat, dan kami berpikir bahwa apakah pekerjaan seperti ini masih diperlukan di kemudian hari. Tepat prediksi beliau, ketika aku melihat ketidakberesan di dalam rumah maupun di luar rumah, entah mengapa ada perasaan risih yang membuat aku gregetan untuk membereskannya. Hebat, pemikiran visioner beliau mampu menjangkau apa-apa yang kami butuhkan untuk hari kemudian kelak.

Ayah, bapak, papi atau apapun itu, semoga sosokmu selalu dalam lindungan Allah 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s