Sebuah Evaluasi, Sebuah Refleksi

Hari ini sudah hampir usai, sebuah perjalanan waktu yang singkat untuk sebuah evaluasi kerja yang setengah tahun sudah berjalan. Memang singkat, hanya membutuhkan waktu sehari dalam pengevaluasian tersebut. Namun singkat di sini dalam arti secepat ini ternyata waktu berjalan. Perlu diketahui waktu hari ini terkuras habis hanya untuk evaluasi, sejauh mana kinerja kita sudah berjalan, belum dan baru akan berjalan.

Aneh memang, ketika saya bilang singkat (menurut pribadi saya sendiri) namun kalau dilihat dari kacamata orang lain, sehari itu bukan waktu yang singkat hanya untuk hal ini. Sehari, waktu yang sangat menguras energi, berangkat pagi pulang malam berdiri di depan audiens berlagak memandu acara, padahal hanya sesederhana itu pekerjaan seorang pemandu acara, namun energi yang dibutuhkan luar biasa besar.

Evaluasi ini dimulai dari masing-masing divisi, membahas program kerja dari divisi yang sedang dievaluasi tersebut. Secara detail para ketua divisi memberikan informasi masalah-masalah yang dihadapi dalam divisinya, bisa dibilang sharing. Setelah diceritakan masalah dari mereka, pada akhirnya seluruh audiens ikut meramaikan acara dengan memberi tanggapan, saran, masukan yang membangun untuk program kerja yang lebih baik lagi. Asik memang, tapi sekali lagi pada penerapannya ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Secara keseluruhan mereka (para ketua divisi) baik dalam menyampaikan presentasinya, artinya tidak ada satu orang atau beberapa orang yang mengalami kegugupan ketika sedang berada di hadapan audiens. Hebat, sudah timbul kepercayaan diri untuk bisa speak up di depan orang banyak, suatu kemampuan yang orang lain belum tentu dapatkan. Namun kita kembali lihat substansi yang disampaikan, secara keseluruhan masih banyak program kerja yang kurang efektif, tidak berjalan dengan baik, ataupun batal. Bukan masalah untuk saya, saya berpikir dalam suatu organisasi sebaiknya tidak terlalu mengejar program kerja, lebih kepada soliditas dari internal kader itu sendiri.

Beberapa masalah muncul ketika kader-kader yang seharusnya memegang amanah baik yang setinggi-tingginya sampai serendah-rendahnya malah ‘kurang bisa’ diberikan amanah. Ada suatu keganjalan yang harus segera diselesaikan. Pada akhirnya kita jatuh pada satu sesi dimana masing-masing individu menyampaikan ‘uneg-uneg’ nya selama berada di lembaga ini. Bagus, antusiasme yang bagus dari mereka karena selama ini nyatanya masih banyak kader yang belum saling mengenal, memahami, dan mengerti. Iya, satu momentum ini pada akhirnya dijadikan sebagai ajang tukar pikiran bagi kader-kader dakwah itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s