Memetik Hikmah dari Isra’ Mi’raj

Momentum Isra’ Mi’raj memang sudah berlalu, namun hikmah dari Isra’ Mi’raj masih terus diaplikasikan dalam kehidupan. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik peristiwa Isra’ Mi’raj? Peristiwa yang hanya dijalani oleh Nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW.

Tidak semua Nabi diberikan Allah SWT mu’jizat yang menakjubkan, melawan hukum alam yang dapat dilihat langsung oleh ummatnya dengan mata telanjang. Ada Nabi Musa dengan tongkatnya bisa membelah lautan, atau Nabi Isa yang bisa menghidupkan kembali orang mati, dan lain-lain. Namun, ada juga Nabi yang tidak banyak dikaruniakan mu’jizat yang mencengangkan. Diantaranya adalah Nabi Muhammad SAW yang justru mu’jizat utamanya adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an menakjubkan, tapi tidak dengan cara yang sama dengan m7u’jizat Nabi Musa dan Nabi Isa. Selain Al-Qur’an, mu’jizat Nabi yang lain adalah diperjalankannya beliau dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina hingga kemudian diperjalankan ke Sidratul Muntaha. Tentunya ini di luar nalar manusia pada waktu itu. Namun, itulah yang namanya mu’jizat.

 

Berawal dari Permintaan Kaum Quraisy Kepada Nabi SAW

Sebenarnya, sebelum peristiwa itu terjadi, orang-orang kafir Quraisy pernah meminta kepada Rasulullah untuk melakukan hal-hal aneh karena mereka tidak percaya kalau beliau adalah nabi. Hal ini direkam oleh Allah dalam Al-Qur’an sebagai berikut :

“Dan mereka berkata : “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma atau anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami, atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.” (QS. Bani Israil : 90-93)

Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat mempesona. Akan tetapi, kekafiran membutakan mata hati mereka dan mereka mengajukan permintaan yang bisa dilihat oleh mata telanjang. Rasul sendiri menjawabnya dengan bijaksana, “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Bani Israil : 93). Allah yang Maha Suci tentu Maha Kuasa untuk melakukan semua itu, tetapi Rasulullah mengatakan bahwa dirinya hanya seorang manusia biasa yang diangkat menjadi seorang Rasul sehingga tidak mungkin melakukan semua itu.

 

Isra’ Mi’raj sebagai Hiburan untuk Nabi

Di tahun ke sepuluh kenabian, Rasulullah mengalami duka yang sangat mendalam karena beliau ditinggalkan oleh istri tercintanya, Khadijah. Selain itu, beliau juga ditinggal oleh pamannya sendiri, Abu Thalib. Keduanya adalah sosok pendukung dakwah Nabi yang luar biasa. Dalam keadaan duka cita tersebut, Allah ‘menghibur’ Nabi dengan memperjalankan beliau sampai ke langit dan menerima perintah sholat secara langsung dari Allah. Peristiwa inilah yang disebut sebagai Isra’ Mi’raj.

 

Mengapa Masjidil Aqsha?

Mungkin ada yang bertanya, mengapa dalam peristiwa itu Rasul diperjalankan ke Masjidil Aqsha? Kenapa tidak langsung saja ke langit? Paling tidak ada beberapa hikmah yang bisa dipetik, antara lain:

  1. Nabi Muhammad adalah satu-satunya Nabi dari golongan Ibrahim AS yang berasal dari Ismail AS, sedangkan Nabi lainnya berasal dari Nabi Ishaq AS. Inila yang menyebabkan Yahudi dan Nasrani menolak Nabi Muhammad, karena mereka melihat asal-usul keturunan (nasab). Alasan mereka sangat tidak ilmiah, dan kalau memang benar, mereka berarti rasialis karena hanya melihat orang dari keturunannya. Hikmah lainnya adalah bahwa Nabi Muhammad berda’wah di Mekkah, sedangkan Nabi yang lain berdakwah di sekitar Palestina. Kalau dibiarkan saja, orang lain akan menuduh Nabi Muhammad sebagai orang yang tidak ada hubungannya dengan golongan Ibrahim dan merupakan ‘sempalan.
  2. Allah dengan segala ilmu-Nya mengetahui bahwa Masjidil Aqsha akan menjadi sumber sengketa sepanjang zaman setelah itu. Mungkin Allah ingin menjadikan tempat ini sebagai ‘pembangkit’ ruhul jihad kaum muslimin.

 

Memahami Isra’ Mi’raj

Dalam memahami peristiwa Isra’ Mi’raj, para ahli akal dan logika harus berpikir dengan logika keimanan dimana meyakini bahwa untuk Allah tidak ada yang mustahil, bahkan otak mereka saja adalah ciptaan Allah. Keimanan kita sebagai muslim benar-benar dituntut terhadap kebenaran peristiwa ini karena memang sangat berat untuk diterima oleh akal. Hanya melalui keimanan yang teguh peristiwa ini bisa diterima. Karena Isra’ Mi’raj adalah suatu perjalanan Illahiyah (perjalanan yang didasari pada kemauan dan kehendak Allah SWT) dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi mu’jizat dan lambang kebesaran serta kemuliaan Rasulullah dan hal serupa tidak akan terjadi lagi setelah Rasulullah SAW.

Logika keimanan inilah yang dicontohkan oleh Abu Bakar as-Shiddiq. Abu Bakar tetap memiliki kebutuhan keyakinan meskipun peristiwa tersebut terjadi di luar logika manusia.

Redaksi ayat Allah pada QS. al-Israa ayat satu, Allah telah mengawali kalimat ‘Subhaanallah’ yang artinya “Maha Suci Allah”. Sebenarnya masih banyak kata pujian yang bisa digunakan, namun kata ‘Subhaana’ ini telah menunjukkan bahwa Dzat yang akan menjalankan hamba-Nya di malam tersebut adalah Dzat yang Maha Suci. Maka perjalanan suci atau perjalanan Illahiyah ini akan diberikan kepada jiwa yang suci pula. Beliaulah Rasulullah SAW.

Seterusnya ayat tersebut dilanjutkan dengan kalimat ‘Asraa’ yang artinya ‘menjalankan’. Kata tersebut membuktikan bahwa dalam peristiwa Isra’ Mi’raj ada yang sifatnya aktif dan ada pula yang pasif. Dalam hal ini, Allah bersifat aktif, sedangkan Rasul bersifat pasif. Allah bersifat aktif karena dalam peristiwa apapun yang dikehendaki Allah termasuk peristiwa Isra’ Mi’raj adalah atas izin-Nya, dan kita tidak perlu lagi mengingkarinya. Rasulullah bersifat pasif karena beliau tidak pernah berencana melakukan Isra; Mi’raj ini. Allah yang punya kehendak, kalau Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya.

 

Penutup

Setiap tahun, kebanyakan ummat Islam di Indonesia memperingati peristiwa agung ini dengan berbagai macam aktivitas. Akan tetapi, adalah sia-sia jika aktivitas tersebut kemudian tidak mampu mengambil hikmah dari kisah ini. Adalah sia-sia jika memperingati tapi melalaikan keagungan Allah SWT. Adalah sia-sia jika pesan sholat yang diterima Nabi Muhammad secara langsung dalam peristiwa tersebut tidak dilakukan dengan berkualitas, khusyu’ dan tuma’ninah. Mari menyelami dalamnya lautan hikmah dari setiap mu’jizat Allah kepada Nabi-Nya, Wallahua’lam.

 

Sumber :
Selembar Madani Salam UI edisi III tahun VIII ; Juni 2013 | Rajab 1434 H
oleh Banu Muhammad, S.E., M.S.E (Dosen FEUI, Pembina Salam UI)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s